Oleh: erhambudi | April 10, 2011

KLIPING KORAN KUNO

KLIPING KORAN KUNO downloadable now

Menjelang dan sesaat setelah kemerdekaan merupakan masa penuh catatan sejarah penting. Sayangnya kita sering kesulitan menemukan sumber otentik untuk menelitinya. Semakin habisnya saksi hidup menjadi kendala tersendiri bagi sejarawan. Oleh karena itu sumber tertulis menjadi sangat penting. Salah satu sumber tertulis yang mengawal geliat sejarah adalah media masa. Namun sulit juga menemukan koleksi media masa terbitan beberapa dekade lampau. Kalaupun ada, kebanyakan kondisinya sudah memprihatinkan. Maka adanya beberapa dokumen media masa terbitan zaman dulu yang masih terjaga hingga kini, menjadi harta karun yang sangat bernilai.

Kita patut geram dengan penjajahan, tapi kita pantas bersyukur sebab mereka juga yang selama ini menjaga dokumen penting tersebut secara lebih profesional. Media masa terbitan tahun 1930an hingga 1960an banyak yang  didokumentasikan oleh Lembaga Dokumentasi Perang Belanda (Netherlands Instituut voor Oorlogs Documentatie). Anda bisa download dokumen tersebut websitenya. Namun anda harus siapkan kesabaran dan ketelitian sebab anda harus mendownloadnya per artikel, bukan perhalaman apalagi peredisi. Bisa dibayangkan, berapa judul artikel dalam satu edisi koran? Dalam satu halaman saja terkadang bisa terdiri dari 20an judul. Artinya anda bisa melakukan seratusan kali donwload hanya untuk satu edisi koran (full rubrics). Cukup melelahkan.

Tapi jangan khawatir, saya sudah lakukan sebagian tugas itu di waktu luang yang saya miliki (untung saya pengangguran). Saya buat kliping per halaman (bukan per edisi lho) supaya byte-nya tidak kebesaran. Tujuannya supaya gampang diunggah lagi dan mudah untuk anda download.

Berikut ini sebagian yang sudah saya kliping. Saya unggah sebagian saja, masih ada beberapa kliping yang mangkal di laptop saya, bahkan masih ada pula yang fresh downloaded, jadi masih raw material dan belum saya kliping. Dokumen yang saya unduh diantaranya dari koran Asia Raya, Soeara MIAI (Mejelis Islam A’laa Indonesia), Atjeh Sinbun, Bali Sinbun, Djawa Baroe, Banteng Perdjoangan, dan sebagainya. Jika anda ingin membaca sebagian kecil yang sudah saya kliping (anggap saja sekedar sample) silakan klik dibawah ini untuk download.

Asia Raya, 23 Juli 1942

Asia Raya, 23 September 1942

Asia Raya, 23 September 1942 halaman 2

Soeara M.I.A.I, edisi 1 Februari 1943

Atjeh Sinbun, edisi 5 Agustus 1934

Atjeh Sinbun, edisi 18 Januari 1943

Bali Sinbun, 25 Agustus 1945

Banteng, 4 November 1945

Tulisan ini merupakan catatan yang disarikan dari General Lecturer dengan pembicara Prof. Dr. Richard Gombrich dari Oxford University. Dia adalah seoang pakar Buddhism dengan reputasi dunia. General Lecturer tersebut mengambil tema “Buddhism in Modern World: Secularization or Protestantization”, dan dilaksanakan pada Rabu, 13 Oktober 2010 di Smart Room Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, jam Jam: 13.00 – 15.00.

Gombrich mengawali kuliah umumnya dengan menyampaikan salam hangat dari universitas Oxford di inggris untuk seluruh mahasiswa di Yogyakarta, khususnya mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga. Hari ini juga merupakan pertama  kali bagi Gombrich merayakan ulang tahunnya di Yogyakarta. Bagi  Gombrich judul kuliah umum “Buddhism in Modern World: Secularization or Protestantization”  termasuk judul yang terlalu panjang, namun semuanya akan dijelaskan olehnya.

Gombrich memberikan contoh karya tulis yang baik berkaitan dengan tema diatas. Sebuah buku berjudul Religion in Modern World yang ditulis oleh Bryan Wilson. Wilson adalah sahabat Gombrich yang 20 tahun lebih muda darinya. Sedikit banyak, apa yang dibicarakan Gombrich dalam Kuliah Umum ini diambil dari buku tersebut.

Gombrich bersama rekan-rekannya juga menulis buku berkaitan tema sekularisasi. Namun itu sudah 30 tahun yang lalu. Dia menjamin bahwa tulisannya pasti bermutu. Meski mengaku sudah lupa tentang isi tulisannya 30 tahun lalu itu, namun pada kesempatan ini dia mencoba menjelaskan kembali tema sekularisasi yang tertuang dalam tulisan tersebut. Dan akan menjelaskan tema diatas sehingga teruntai koneksi antara tiga tema besar yaitu Buddhism, Sekularisasi, dan Protestanisasi.

Gombrich menuturkan bahwa di dunia Barat yang dianggap modern, agama seolah tidak begitu mendapat tempat. Fenomena tersebut juga kian merebak  ke Timur, terutama di negara-negara yang sibuk dengan modernisasi seperti Cina, Jepang dan Korea. Adapun yang sering terlihat di masyarakat yang mengejar modernisasi ini justru gejala sekularisasi. Sehingga dengan melihat fenomena itu, hampir bisa dibenarkan bahwa antonim dari kata religious adalah secular. Sekularisasi bisa saja diartikan menjadi semakin sekuler dan kurang relijius. Pendapat ini juga diakui oleh Bryan Wilson, sayangnya dia tidak membahas protestantisme seperti yang akan didiskusikan pada kesempatan ini.

Menurut Gombrich, kurang lebih 500 tahun yang lalu, agama masih mempunyai peran penting dalam masyarakat. Orang akan datang kepada otoritas agama manakala menemui masalah dalam kehidupannya. Masalah apapun diadukan kepada agama. Dalam hal ini, agama diposisikan sebagai obat dan solusi dari berbagai ketidakberesan. Orang pun menerima “kenyataan” bahwa agama adalah penyembuh yang mujarab.

Dalam sejarah Kristen sebagai contoh, Gereja dalam sejarahnya juga menerima penyembuhan bagi umat di luar gereja. Ketika terjadi bencana alam, orang kehilangan harta dan kehilangan hal-hal yang berharga bagi dirinya. Saat seperti itu, yang diharapkan tidak hanya asuransi, tapi orang butuh lebih dari itu. Sebab manusia membutuhkan penyembuh dan penguat batin yang nestapa. Maka orang lari ke gereja untuk mendapatkan penyembuhan itu. Ternyata hanya dengan agama-lah orang bisa merasa nyaman hatinya.

Gombrich juga menyinggung tentang pendidikan. Menurutnya, pendidikan di zaman dulu juga dipengarui oleh nilai-nilai agama. Pendidikan bukan sekedar sebuah institusi, namun pendidikan dikontrol dan mengontrol agama. Bahkan hal yang sangat ilmiahpun seringkali masih diawasi oleh agama.

Ternyata agama telah memberikan banyak hal bagi manusia. Kesehatan ruhani bahkan jasmani, kesejahteraan hidup, pendidikan, bahkan penghiburan semisal festival keagamaan. Semua adala peran agama bagi manusia. Dan itu benar-benar bisa dinikmati dan membuat nyaman setiap penganutnya. Di dalam masyarakat Kristen, agama telah berperan dalam membuat lagu, memainkan musik yang diciptakan, ditampilkan dan diupah oleh gereja. Ini merupakan bentuk perkembangan di era sekuler, sebab pada masa lampau hal itu belum terjadi. Singkatnya agama telah memainkan peran penting dalam masyarakat. Masyarakat sekuler boleh saja bersikap sinis pada agama, namun fakta diatas menunjukkan bahwa dalam beberapa kondisi sesungguhnya masyarakat tidak akan bisa lepas dari agama.

Lalu apa fungsi agama bagi individu? Untuk menjawab itu, Gombrich kembali mengingatkan terlebih dahulu bahwa masalah kehidupan manusia di dunia ini dibagi menjadi dua; yaitu masalah duniawi dan masalah relijius. Namun seolah dalam masyarakat sekuler, segala masalah hanyalah berkaitan dengan dunia. Sementara itu pendidikan, kesehatan, ekonomi, hiburan dan lain-lainnya semakin dianggap sebagai urusan duniawi saja. Padahal itu juga merupakan urusan agama.

Meskipun tampaknya dalam konteks saat ini segala sesuatu sudah tersekularkan, namun tentunya bukan berarti agama kehilangan peran. Peran itu setidaknya menyusup ke dalam masing-masing individu. Sebab ketika sesorang menanyakan: “apa makna hidup ini, lalu bagaimana seharusnya saya menjalani hidup ini agar bermakna?”, maka orang akan mencari jawabnya lewat agama. Memang ini sekedar pertanyaan etis supaya seseorang bisa hidup lebih baik dan berarti, tapi sebenarnya ini adala pintu masuk agama di dalam kehidupan manusia, meski di masyarakat sekuler sekalipun. Tentu pertanyaan diatas cukup tak terelakkan, buktinya orang yang mengaku tidak relijiuspun tetap perlu belajar etika, sebab dengan etika itulah orang hidup bahagia. Artinya agama tidak akan mungkin kehilangan perannya sebab di dalam agama tertuang banyak etika yang menentramkan itu.

Orang yang gagal menemukan kenyamanan, akan menghadapi  kebingungan. Ia akan menganggap hidup ini begitu rumit (complicated). Di saat seperti itulah muncul dorongan untuk melakukan bunuh diri. Namun lagi-lagi orang akan bertanya: “apakah bunuh diri memang sebuah penyelesaian yang tepat?”. Pertanyaan itupun akhirnya berkorelasi dengan perntanyaan “apa yang nanti akan dihadapi setelah mati?” dan tentunya, hingga detik ini di peradaban yang dianggap modern ini, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu secara tepat kecuali satu, yaitu agama.

Tak heran jika sebuah buku sosiologi yang terkenal di Amerika mengatakan bahwa peran agama adalah to comfort and to challenge, untuk memberi kenyamanan dan untuk menantang manusia. Untuk membuktikan kebenaran pendapat itu mudah saja. itu bisa diamati dari motivasi orang datang ke tempat ibadah. Kira-kira apa yang mereka cari? Ternyata banyak diantara mereka yang datang beribadah untuk mencari ketenangan. Pengakuan ini terutama datang dari penganut agama yang sudah berusia lanjut. Bahkan sebagian besar adalah janda dan duda. Mereka yang berusia lanjut dihantui oleh akhir kehidupan, mereka yang janda dan duda dihinggapi kesendirian dan ketidakmenentuan. Semua masalah itu memerlukan sesuatu yang bisa memnbuat mereka merasa comfort (nyaman). Dan tidak ada yang bisa menenangkan hati mereka kecuali agama.

Pihak yang menganggap agama sebagai tantangan biasanya adalah kalangan muda yang mulai berfikir merenungi kehidupan. Yaitu mereka yang mulai sadar bahwa dunia ini tidaklah sempurna. Bahkan dunia ini diwarnai kebobrokan yang mengkhawatirkan. Maka para pemuda ditantang untuk membuat dunia ini lebih baik. Ketika mencari solusi tersebut, mereka bisa melihat agama, mempelajari fungsi dan manfaatnya serta kemungkinan mengembangkannya untuk perbaikan dunia.

Kesadaran akan dua realitas diatas, membuat agama tetap tidak bisa hilang meskipun diterpa sekularisasi. Sebagai contoh. Di Amerika Serikat, sebagai negeri yang dianggap sekuler, ternyata masih mudah untuk melihat orang berbondong-bondong ke gereja setiap hari minggu.

Pada prinsipnya, ada dua hal yang menjadi concern dalam agama. Yaitu menciptakan kesejahteraan di dunia serta yang kedua dan yang lebih utama menciptakan kesejahteraan setelah mati dengan cara mengupayakan kondisi yang lebih baik bagi realitas setelah mati nanti.

Untuk mencapai tujuan ideal itu, Buddha berkotbah tentang dukkha (penderitaan). Konsep ini pada gilirannya akan membawa manusia pada keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki tempat yang lebih baik, serta melahirkan keinginan menyelami kehidupan spiritual.

Untuk mencapai itu, bagaimana sikap Buddha terhadap dunia. Ternyata cara pandang Buddha berbeda dengan Kristen dan Islam. Buddha tidak terlalu berorientasi pada kehidupan dunia ini (welfare in the world), tapi melampaui hal itu. Cara yang ditempuh para Buddhist memang bermacam-macam. Bisa ditemui keragamannya pada umat Buddha di Cina, Jepang, Kamboja dan sebagainya yang menerapkan ajaran Buddha dipadu dengan lokalitas mereka sehingga menjadi akulturasi. Namun pada prinsipnya tujuan mereka sama yaitu mencari welfare after life (kesejahteraan setelah mati).

Berkitan dengan sekularisasi diatas, kelebihan Buddhism dibanding agama lain adalah kemampuan Buddhisme melihat sekularisasi secara sempurna. Hal ini dikarenakan ajaran Buddhisme yang tidak mengenal hal-hal magic bahkan tidak mementingkan konsep ketuhanan. Hal ini mempermudah umat Buddha untuk mendudukan sesuatu yang mundane (bersifat duniawi) sebagai profane (tidak sakral).  Padahal kemampuan seperti inilah yang menjadi salah satu syarat sekularisasi.

Berkaitan dengan Prostentatisme. Gombrich mengulas balik peristiwa protestantisme di dalam tradisi Kristen. Bermula abad 15 ketika Marthin Luther menentang Gereja Roma yang otoritasnya sangat kuat.

Buddha mengajarkan kebebasan, kemandirian dan tanggung jawab. Ketika Buddha ditanya  “apakah saya harus menjadi biksu seperti anda atau tidak?”, Sang Buddha hanya menjawab : “anda baik laki-laki dan perempuan bertanggung jawab atas apa yang anda lakukan sendiri”

Tapi hal ini berbeda dengan masa ketika para pemuka Gereja Roma berkuasa penuh terhadap umat Kristen. Pada masa itu seolah keselamatan hanya merupakan anugerah yang bisa diberikan oleh para pemuka agama (bahkan bisa ditebus dengan Surat Indulgensia). Tapi akhirnya para pemrotes sadar bahwa ritual yang diakukan para pemuka Gereja bukan satu-satunya jalan keselamatan. Ritual saja tidak cukup untuk menyelamatkan diri,namuni harus diimbangi dengan berperilaku baik. Hubungan yang kuat harus dibangun antara manusia dengan Tuhan, bukan antara manusia dengan clergy (kependetaan) yang nota bene juga diisi manusia biasa.

Pada sesi diskusi Gombrich menjawab beberapa pertanyaan kritis mahasiswa. pertanyaan pertama dilontarkan Abul Khoir, seorang mahasiswa PA kelas A. Ia mengungkapkan kegelisahannya terkait Agama dan isu terorisme. Meskipun agama adalah solusi, namun banyak orang yang tidak ingin lagi punya agama setelah merebaknya isu terorisme. Alasannya adalah karena mereka tidak ingin membunuh. Oleh karena itu lebih baik tidak beragama daripada punya agama tapi membubuh.  Dia menanyakan apakah cara pandang demikian benar atau salah? Gombrich menjawabnya pertanyaan bagus tersebut secara padat berisi. Dengan merefleksikan ajaran Buddha, Gombrich mengakui adanya dikotomi: “ada orang baik, ada orang jahat; ada etika baik dan ada etika tidak baik, manusia hanya disuruh memilih salah satunya, dan bertanggung jawab penuh atas pilihannya sendiri”. selanjutnya Gombrich mengutip sebuah mutiara dalam ajaran Buddha “Kebencian tak akan bisa dipadam dengan kebencian, tapi dengan cinta yang tulus”

Pertanyaan serupa dilontarkan ole Wahyudi dari kelas PA A.  Ia menuturkan bahwa hakikatnya agama ini adalah bentuk ketentraman bagi  kesejahteraan dunia. Jika seorang ateis beranggapan bahwa agama adalah iming-iming belaka dari orang orang terentu. Maka benarkah Lebih baik tidak punya agama, namun yang penting bisa bersikap baik? Gombrich menjawab pertanyaan tersebut dengan mengingatkan kembali bahwa bahwa agama berfungsi to comfort and to challenge. Agama menyamankan karena mungkin adakalanya manusia merasa sangat tidak beruntung, tapi dengan agama manusia akan punya harapan bahwa nanti akan ada kebahagiaan tersendiri yang dijanjikan agama. Manusia mengalami kebingungan, ketidaktahuan dan kegelisahan itu wajar. Saat bayi lahir, dia bigung dan gelisah, tapi toh setelah dewasa dia tahu bahwa dia baik-baik saja. Maka semua terserah pada kita. Kalau kita bisa menerima agama, mari kita teruskan, kalau tidak, itupun tanggung jawab masing-masing.

Pertanyaan berikutnya dilontarkan Takdir Ilahi, mahasiswa PA-2008. Ia mempertanyakan kapabilitas Buddhisme untuk menepis kemungkinan terjadinya clash civilization. Selain itu dia juga menanyakan relevansi protestantisme dan sekularisasi dalam kajian yang dilakukan Gombrich. Gombrich menjawabnya dengan memberikan contoh bahwa Buddha selalu saja bisa menyesuaikan diri dengan peradaban manapun baik di Barat maupun Timur. Sehingga potensi clash dalam Buddhisme terbilang sangat kecil. Gombrich mencontohkan, Sangha (kelembagaan) Buddhisme hadir di Jepang menjadi Buddha khas Jepang seperti Sokka Gakai, Nichiren Soshu, Zen, dan sebagainya. Begitu juga di berbagai penjuru dunia lainnya. Mengenai keterkaitan protestantisme dan sekularisasi sudah dijelaskan oleh Gombrich diatas dan tidak ia mengulang lagi.

Seorang mahasiswi PA semester V bernama Kholilah Hasan mengajukan pertanyaan tentang sistem kasta dalam pandangan Buddhisme. Gombrich menjawab dengan tegas bahwa Buddha tidak  mengenal Kasta. Buddha tidak pula mengenal diskriminasi jender. Buddha percaya bahwa wanita dan laki-laki sama-sama bisa tersucikan. Dalam Buddhisme, segala sesuatu sangat setara. Gombrich menambahkan bahwa dalam Buddhsme tidak mementingkan adanya ritual. Jika mau menjadi Buddhist yang berhasil, maka yang perlu diperbanyak adalah meditasi, bukan ritual.

Mahasiswi lain mengajukan pertanyaan yang menyentuh dan berkaitan langsung dengan kehidupan pribadi Ricard Gombrich, seperti berapa jumlah putra Gombrich dan apakah ia sudah mantap dan nyaman dengan keyakinan dalam hidupnya. Gombrich menyebutkan 2 putra dan empat cucunya. Dan ia sudah merasa nyaman dengan apa yang dia yakini saat ini.

Pertanyaan berikutnya dlontarkan oleh mahasiswa bernama Waskito Jati. Pertanyaan tersebut terkait apakah Buddhisme a set or rule / norm, atau juga punya aturan bagi orang biasa yang tidak mau menjadi biksu? Gombrich menjawab bahwa terkait set of rule/norm, Buddhisme memandang adanya hal baik dan hal buruk, itu sudah jelas dalam Buddhisme dan manusia dipersilakan memilih dengan penuh tanggung jawab. Terkait menjadi Biksu itu wajib atau tidak, sekali lagi Gombrich menjawab; “Silakan ambil yang anda perlu ambil, tapi jangan ambil yang tidak diberikan padamu.” Kalau manusia merasa perlu menjadi Biksu silakan saja. kalau tidak juga tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai keputusan yang kita ambil merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri adalah hal yang sangat fundamental dalam ajaran Buddhisme.

Mahasiswi PA bernama Resta Widyadara mengajukan pertanyaan kritis. Mampukah konsep Nibbana dijadikan senjata melawan sekularisasi? Gombrich menjawab bahwa sekularisasi bukan ancaman bagi Buddhisme, mungkin protestantisme lebih mengancam daripada sekularisasi. Sedangkan Nibbana dalam pandangan Gombrich adalah eliminasi paripurna dari keinginan, dari kebencian dan dari segala hal.

Diskusi ini diakhiri dengan pertanyaan dari Rahmat berkaitan truth claim masing-masing pemeluk agama. Gombrich menjawab dengan kata-kata dari Buddha “anda tidak harus mengikuti yang saya katakan”. Yang penting lakukan saja jalan-jalan kebaikan (Hasta Arya Marga).

Diskusi berakhir menjelang pukul 15.00. Namun sebelum diakhri, mewakili fakultas, Ibu Dekan Ushuluddin, Dr. Sekar Ayu Aryani, MA., memberikan kenang-kenangan kepada Prof. Richard Gombrich.

Oleh: erhambudi | Oktober 5, 2010

Kuliah Buddhism

Download materi Kuliah BUDDHISM

klik

Buddhism 1

Buddhism 2 – Pendekatan Ilmiah terhadap Buddhism

BUddhism3 – Latar Belakang Munculnya Buddhism

Buddhism 4 – Narasi Kisah Sidharta Gautama

Powerpoint untuk kuliah #4, tidak diupload karena size-nya besar, silakan copy di kelas

Oleh: erhambudi | Desember 27, 2009

Memerdekakan Budaya Lokal

dimuat Harian Jogja, 19 Agustus 2009

Semakin sulit mencari anak yang mengerti tokoh wayang, tapi betapa mudahnya menemukan anak yang gandrung dengan tokoh manga dan anime Jepang maupun tokoh marveldari negri Paman Sam. Bukankah ini bukti bahwa kebudayaan kita sedang terjajah?

Setiap digelar perhelatan budaya, yang datang hanyalah orang-orang berumur. Pertunjukan seni tradisi yang semestinya menjadi media nguri-uri dan regenerasi budaya, menjadi tak lebih dari ajang romantisme historis. Memasuki pagelaran budaya seperti memasuki sebuah pertemuan reuni pakde-pakde dan eyang-eyang. Sulit ditemui muda-mudi yang secara sengaja datang ke pertunjukan wayang, kethoprak, dan sebagainya. Tanpa disadari, dalam mind set anak muda sudah tertanam bahwa kesenian tradisi sudah usang dan lapuk dimakan zaman. Sebaliknya, dengan mudah mereka beralih kiblat ke pop-culture dan hybrid yang dianggap sebagai identitas modern.

Menghadiri pertunjukan seni tradisi sama sekali tidak menimbulkan kebanggaan, justru bisa menjadi sebuah aib. Jika seorang anak muda baru pulang dari mengantar eyangnya menonton wayang, lantas ditanya temannya “dari mana kamu?” jawabnya “dari nganter eyang jalan-jalan”, dia tidak akan menjawab “dari nonton wayang”. Tapi jika dia pulang dari menonton film marvel, tanpa ditanya pun dengan bangga ia akan bercerita ke teman-temannya. Banyak remaja akan merasa malu dan merasa kampungan jika mendalami seni tradisi. Namun mereka merasa bangga jika dengan fasih menyebutkan beberapa nama tokoh manga, anime dan marvel. Mereka merasa ‘gaul’ jika bisa menceritakan kisahnya, jika mengoleksi poster, majalah, wallpaper, pin, hingga versi game-nya.

Kontekstualisasi warisan seni budaya; antara kebutuhan dan ancaman

Sebenarnya menurunnya minat generasi muda kita terhadap seni tradisi bukan hanya disebabkan oleh derasnya terpaan arus budaya lain. Namun juga disebabkan lemahnya upaya pelestarian yang kita lakukan ketika dihadapkan pada beberapa kendala. Kendala yang paling kerap dijadikan alasan meninggalkan seni tradisi adalah bahasa. Anak-anak sekarang semakin tidak faham dengan bahasa yang biasa digunakan dalam seni tradisi seperti wayang, kethoprak, maupun gendhing-gendhing, karena Bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa Krama, bahkan Krama Inggil. Bagi orang yang relatif tua sekalipun, masih kerap gagal mengartikan bahasa yang digunakan dalam pewayangan. Apalagi generasi muda yang wawasan budayanya semakin terkorupsi. Dengan kata lain, seni tradisi kalah progresif dengan manga dan marvel. Menyadari bahwa bahasa merupakan faktor dominan dalam menyebarkan gagasan, baik produsen manga, anima maupun marvel, tidak segan-segan melakukan dubbing maupun penerjemahan via subtitle ke bahasa penikmat. Maka menjadi niscaya untuk mempertunjukkan pagelaran seni budaya dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Sayangnya, seniman yang bisa melakukan ini terbilang sedikit.

Faktor kedua tentunya teknologi. Sebagai contoh, untuk mengenalkan tokoh wayang, yang bisa dilakukan hanyalah dengan menunjukkan gambarnya atau mengajak anak ke pertunjukkan wayang agar melihat secara langsung. Maksimal memutarkan rekaman pertunjukan wayang yang bagi anak muda dianggap membosankan.  Padahal sangat mungkin untuk menciptakan tokoh wayang sebagai tokoh film kartun, komik, atau program game. Tentu ada bagian tertentu dari wayang yang akan terdistorsi. Misalnya bentuk yang sedikit disesuaikan dengan selera anak dan remaja, serta cerita yang lebih kontekstual sesuai yang dihadapi remaja sehari-hari.

Namun tampaknya upaya kontekstualisasi ini akan terbentur oleh ortodoksi budaya. Upaya semacam ini justru dipandang sebagai ancaman terhadap nilai adiluhung yang terkandung dalam seni tradisi. Bagi sebagian penjaga gawang budaya, bahasa dalam seni tradisi adalah bagian integral yang tidak bisa dilepaskan dalam pementasannya. Bahasa wayang menyiratkan keluhuran moralitas yang diwariskan oleh budaya. Menampilkan seni tradisi dengan bahasa lain sama halnya menghapus salah satu bagian inti tradisi itu sendiri, yaitu bahasa. Seni tradisi justru dianggap sebagai garda terakhir yang secara hidup menjaga bahasa adiluhung yang mulai jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari. Menampilkan seni tradisi dengan bahasa lain sama saja dengan menutup pintu akses bagi keberlangsungan bahasa tradisi tersebut.

Alasan lain misalnya, penggunaan media kontemporer seperti pembuatan film kartun dan sebagainya, biasanya meniscayakan pula instrument lain yang lebih full effect ketimbang gamelan. Film-film manga, anime, maupun marvel menggunakan sound effect dan instrument mutakhir untuk menghasilkan karya yang memukau. Dikhawatirkan pembuatan film kartun yang mengambil tokoh wayang juga akan menegasikan eksistensi gamelan. Padahal antara gamelan dan wayang sudah dianggap sebagai dua sisi dari sekeping koin.

Satu kekhawatiran lagi yang masih berkaitan dengan wayang, kontekstualiasinya akan melahirkan tokoh-tokoh baru yang sesungguhnya tidak ada dalam tokoh pewayangan. Namun kekhawatiran semacam ini sebenarnya hampir dimentahkan dengan munculnya beberapa dalang yang berani membuat tokoh-tokoh tambahan dalam wayang di luar pakem yang ada. Misalnya, ada wayang yang berbentuk pocong, wayang berbentuk binatang tertentu ataupun monster, bahkan pernah ditemui wayang berbentuk Ksatria Baja Hitam.

Sebenarnya kekhawatiran tersebut tidak perlu dijadikan kendala. Kita tinggal membuat klasifikasi genre-nya. Sebagai contoh, hadirnya seni Campursari tidak lantas menghapuskan seni karawitan atau gendhingan yang menjadi induknya, namun hanya menambah genre baru tanpa menghapus yang lama. Selanjutnya audiens bisa memilih sesuai minatnya. Dengan demikian, seni pertunjukan dengan versi yang dianggap original tetap terus dipertahankan, sedangkan genre yang lebih kontekstual juga perlu dikembangkan sebagai upaya mendekati audiens yang juga mulai berubah minatnya. Sama-sama bersumber dari seni tradisi, seni yang sudah digarap lebih kontemporer akan lebih digemari generasi muda karena lebih mudah mereka cerna. Hal ini akan melahirkan rasa suka, lalu menjadi cinta. Jika kecintaan terhadap seni tradisi (meski sudah dikontekskan) mulai tertanam, maka mereka akan menengok kembali versi originalnya. Hal itu akan menumbuhkan minat mendalami bahasa versi aslinya serta cerita-cerita pewayangan yang belum dikontekstualisasikan. Oleh karena itu, versi asli dari sebuah tradisi memang sepantasnya tetap dijaga jangan sampai hilang dilindas versi yang baru.

Pelestarian budaya, terutama penanamannya pada generasi muda semakin urgen untuk dilakukan, sebab indikasi akan kehilangan budaya tersebut kian hari semakin nyata. Membiarkan budaya sendiri tidak diopeni sama halnya mempersilakan budaya lain menjajah budaya kita. Hingga suatu saat ketika bangsa lain mempertanyakan budaya kepada generasi penerus kita, anak cucu kita hanya akan menggelengkan kepala sambil berkata “mmmm…I am not sure, …aaaa…I don’t know

Oleh: erhambudi | Agustus 16, 2009

Kemerdekaan, Hadiah dari Siapa?

dimuat di Jawa Pos, 15 Agustus 2009, klik

http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=85586

genderoAnak bangsa adalah anak sejarah sekaligus ahli waris kisah. Mewarisi kisah berarti juga mewarisi semangat. Dengan semangat itulah, kisah selanjutnya akan ditorehkan oleh para penerus. Berkaitan dengan ulang tahun kemerdekaan yang lusa kita peringati bersama, pertanyaan kritis yang kerap muncul adalah benarkah kemerdekaan yang kita peroleh merupakan buah perjuangan? Ataukah hadiah belaka? Kemerdekaan memang bisa dimaknai sebagai hadiah, tapi tentu bukan pemberian cuma-cuma.

Hadiah dari Jepang?

Kemerdekaan Indonesia dianggap sebagai hadiah dari Pemerintah Jepang. Asumsi tersebut sebenarnya cukup beralasan. Gagasan menghadiahkan kemerdekaan kepada Indonesia muncul pada 7 September 1944 melalui pernyataan PM Koiso Kuniaki yang menggantikan Hideki Tojo. Sejak saat itulah, Sang Saka Merah Putih boleh dikibarkan. Bahkan, Laksamana Muda Maeda Tadashi mendirikan Asrama Indonesia Merdeka di Jakarta serta membantu biaya perjalanan Soekarno dan Hatta ke beberapa daerah. Selain itu, Jawa Hokokai sebagai organisasi bentukan Jepang mulai diizinkan membentuk kelompok pemuda militer sendiri, yaitu Barisan Pelopor. Organisasi Islam Masyumi juga diizinkan membentuk sayap militer (Hizbullah).

Untuk memperlihatkan keseriusannya, pada Maret 1945 Jepang mengumumkan dibentuknya Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang beranggota tokoh-tokoh Indonesia. Melunaknya sikap Jepang seolah menggambarkan bahwa Jepang sangat berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. Tapi, sesungguhnya kemerdekaan yang akan diberikan hanyalah kemerdekaan semu. Sikap Jepang yang pro-kemerdekaan adalah demi menggalang dukungan Indonesia menghadapi Sekutu, atau setidaknya untuk menenangkan Indonesia agar tidak memberontak. Hal ini perlu dilakukan karena Jepang sendiri benar-benar direpotkan oleh gempuran Sekutu. Andai Jepang berhasil mengalahkan Sekutu, belum tentu Indonesia benar-benar dimerdekakan. Sebab, Jepang tidak akan begitu saja melepas wilayah kaya bahan tambang yang sangat diperlukan bagi industri dalam negeri mereka.

Hadiah dari Sekutu?

Bisa jadi, kemerdekaan kita justru hadiah dari Sekutu. Seandainya Jepang tidak ditaklukkan oleh Sekutu, ada kemungkinan Jepang masih menghunjamkan tajinya di negara-negara Asia Tenggara. Termasuk Indonesia. Jepang menyerah kepada Sekutu setelah Bom Atom Little Boy dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Kaisar Jepang Tenno Heika Hirohito menye­tujui Postdam Declaration sebagai pernyataan menyerah tanpa syarat, sembari memberikan perintah menghentikan perang pada 15 Agustus 1945.

Secara sederhana dapat disimpulkan, kemerdekaan Indonesia merupakan keuntungan dari kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Kemerdekaan dikatakan sebagai hadiah dari Sekutu karena Sekutu seolah membiarkan Indonesia absent dari kekuasaan negara mana pun. Meski secara de jure Indonesia masih di bawah kekuasaan Jepang, secara de facto Jepang bukan lagi negara yang berkuasa karena telah ditaklukkan oleh Sekutu sehingga status Indonesia berada pada kekosongan kekuasaan.

Pembiaran yang dilakukan oleh Sekutu, tampaknya, bukan kesengajaan. Sekutu sedang mengalami euforia kemenangan atas Jepang. Sekutu juga masih shock melihat dampak teknologi pemusnah masal yang baru pertama digunakan dalam perang. Situasi tersebut membuat mereka alpa untuk mengambil alih daerah-daerah bekas jajahan Jepang. Dikatakan alpa karena sebenarnya Sekutu telah membuat rencana penaklukan Asia Tenggara melalui perwira Inggris Lord Louis Mountbatten. Bahkan, akhirnya Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Letnan Jendral Sir Philip Christison juga mulai merangsek ke Medan, Palembang, Padang, Semarang, dan Surabaya.

Untunglah, sebelum upaya perebutan kembali itu berbuah, para pemimpin Indonesia, terutama dari golongan pemuda, cepat-cepat mengambil alih kekosongan kekuasaan. Pada kondisi kosong itulah bangsa Indonesia seolah menemukan momentum untuk mengegolkan tujuan yang selama itu selalu terhambat: merdeka.

Ketika kekosongan kekuasaan terjadi, Soekarno, Hatta, dan hampir seluruh tokoh tua sangat berhati-hati mengambil sikap. Tokoh-tokoh tua tidak segera memanfaatkan waktu untuk memerdekakan diri. Mereka masih menunggu “sabda” dari Pemerintah Jepang yang sedianya akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada September 1945.

Janji kemerdekaan yang ditawarkan Jepang, yang oleh para pemuda dianggap sebagai kidung nina bobo dan isapan jempol, tak perlu lagi dinanti kelanjutannya. Mereka ingin mengambil peluang merebut kemerdekaan sesegera mungkin. Tak heran jika para pemuda bersikukuh “memboyong” Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Isi teks proklamasi yang disusun jauh dari harapan pemuda. Pemuda meng­hendaki teks proklamasi yang menggebu, berapi-api, dan bergelora. Golongan tua justru menyusun teks yang sangat hati-hati dan lebih fleksibel. Kehati-hatian tersebut lahir dari pertimbangan mereka yang matang. Teks itu memang dengan tegas memancang tonggak kemerdekaan, yaitu diwakili dengan kalimat ”…dengan ini menyatakan kemerdekaannya”. Namun, ditambahkan kalimat yang lebih akomodatif agar tidak terlalu menyakiti perasaan pihak Jepang. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan “hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dll diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Bukan Hadiah

Andaipun Jepang dianggap berjasa karena melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda, jasa mereka sangat tidak sebanding dengan penderitaan dan korban Jiwa yang diderita Indonesia selama masa pendudukan. Pun seandainya Sekutu dianggap berjasa mengusir Jepang dari Nusantara, tujuan Sekutu sesungguhnya bukan membantu memerdekaan Indonesia. Mereka ingin membalas serangan terhadap Pearl Harbour dan Darwin, sekaligus memantapkan posisi hegemoni dunia yang baru.

Bahkan, seandainya Jepang tidak pernah berencana memberikan hadiah kemerdekaan, bangsa Indonesia juga sudah berupaya merebutnya. Berbagai trial and error untuk tujuan itu sudah dilakukan. Sebut saja perlawanan para petani atas kewajiban penyerahan beras yang terjadi di Priangan pada Februari 1944, pemberontakan Detasemen PETA Blitar pada Februari 1945, dan sebagainya.

Sikap lunak yang pernah ditunjukkan Jepang bukanlah kemurahan hati yang benar-benar murni, namun cermin dari kekhawatiran Jepang terhadap benih-benih pemberontakan yang mulai bermunculan di Indonesia. Jepang sendiri sudah kewalahan menangkis serangan Sekutu.

Kesimpulannya, kemerdekaan Indonesia adalah hasil kejelian para pemuda dan pemimpin bangsa dalam melihat peluang. Sebagai sebuah momentum, peluang itu adalah hadiah dari Tuhan untuk bangsa ini atas perjuangan berdarah dan tak kenal lelah selama berabad-abad. (*)

Oleh: erhambudi | Mei 24, 2009

EARTH, a movie review

earth_PosterAnda akan dibawa ke bagian terdingin di planet ini dimana Beruang Kutub kian hari kian terancam sirna. Salah satu beruang kutup jantan digambarkan wafat karena sulitnya menemukan makanan setelah pemanasan global meluluh lantakkan es padat mereka. Anda juga akan dijumpakan dengan Gajah Afrika yang kehausan, berjalan ratusan mil di tengah Kalahari dan diterpa badai gurun, demi mencapai tempat minum di Okavango yang juga mulai mengering karena global warming. Selanjutnya, kisah anak paus dan induknya yang harus berenang 6000 kilometer juga akan membuat anda tertegun. Naiknya suhu bumi telah mengurangi jumlah plankton, yang padanya berbagai biota laut termasuk paus menggantungkan hidup. Alhasil, anda akan dengan cepat menyimpulkan bahwa global warming tidak hanya mengancam manusia, namun juga aneka satwa.

Film ini memang membuat kita merasa trenyuh (sedih dan prihatin), bukan hanya karena fakta-fakta yang memilukan diatas, namun juga bagaimana fakta-fakta itu dihantarkan ke ruang sadar dan bawah sadar kita. Suara Patrick Stewart yang bergetar mampu membawa narasi film ini dengan sangat emosional. Musik garapan George Fenton yang kadang lirih lalu menggemuruh dan mendentum, sangat mirip warna aransement Kitaro, membantu mengaduk-aduk emosi anda. Ditambah beberapa slow motion yang lembut membuat mata anda tak akan rela berkedip.

Tapi bagi anda yang tidak suka genre film sedih, jangan khawatir, karena film ini juga akan cukup menghibur anda. Anda akan dimanjakan gambar-gambar memukau. Jutaan kawanan burung yang memenuhi langit, tarian dan nyanyian burung-burung surgawi di tanah Papua, hutan tropis nan sejuk, kilatan aurora di kutup utara, pesona air terjun Niagara, ratusan lumba-lumba yang berpacu bagaikan misil termuntah dari submarine, loncatan nan molek sang raja lautan great white shark, hingga langkah kecil yang lucu dari si happy feet, penguin. Untuk menggarap film ini, BBC Worldwide dan Greenlight Media harus mendatangi 200 lokasi di berbagai penjuru bumi. Bukan hanya untuk mendapatkan gambar-gambar memukau, namun juga menunjukkan fakta-fakta belum terungkap. Waktu penggarapannya pun terbilang panjang; untuk menggambarkan sebuah siklus kehidupan sepanjang satu tahun, film ini harus digarap selama lima tahun. Tak heran jika film bertajuk “earth” ini disebut-sebut sebagai film dokumenter termahal sepanjang sejarah.

Film ini memang sudah dirilis sejak 16 November 2008 lalu, namun tidak ada kata terlambat bagi anda yang belum menontonnya. Tonton segera sebelum anda terlambat untuk menyelamatkan dunia. Bukan bermaksud beriklan, hanya meneruskan pesan moral yang menjadi penutup film ini: “but it is not too late to make a difference”

Interreligious Dialog dan Demokrasi menjadi agenda wajib bagi Jaringan Islam Liberal ( JIL) karena lembaga ini memang dibentuk guna merespon kebutuhan tersebut sebagai salah satu gerbong dari rangkaian kereta reformasi di negeri ini. Profil tentang JIL dan perannya dalam interreligious dialog ini terungkap dalam wawancara Erham Budi Wiranto dengan Novriantoni, koordinator program pada Jaringan Islam Liberal, yang dilaksanakan di kantor JIL, Utan Kayu Jakarta, 27 Maret 2009 lalu. Berikut ini petikannya:

novri-erhamErham : sebenarnya, apa latar belakang dibentuknya JIL, mungkin bisa diceritakan sejarahnya?

Novriantoni: di saat mulai bergulirnya reformasi yang saat itu digawangi Amien Rais dan rekan-rekan terutama kawan-kawan mahasiswa, era kebebasan media kan dimulai. Maka pada waktu itu teman-teman sudah memikirkan perlunya sebuah wadah untuk menampung ide-ide kebebasan beragama yang semasa orde baru selalu didikte pemerintah. Kalau resminya JIL berdiri, ya sejak 8 maret 2001, yang ditandai dengan dibuatnya website JIL. Program kerja yang dilaksanakan waktu itu sederhana saja, seperti sindikasi media di Koran Tempo dan talkshow radio tentang agama dan toleransi. Secara kelembagaan awalnya JIL berdiri dibawah ISAI (institute Studi Arus Informasi). Jadi semacam bidang kajian atau diskusi Islam pada lembaga tersebut. Kantor ISAI juga disini, di utan kayu.

Erham: Mengapa memililih bentuk jaringan?

Novriantoni: karena alasan praktis atau pragmatis saja, ya biar lebih mudah dikelola dengan resources (sumber daya) yang terbatas. Selain itu JIL tidak berhasrat untuk menjadi ormas seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam dan sebagainya. JIL lebih sebagai lembaga pemikiran, lembaga tempat para kawan-kawan muda yang punya pikiran mencerahkan berhimpun. Selain itu ya karena kesiapan kita cuma itu.

Erham : Apakah secara kelembagaan JIL saat ini masih dibawah ISAI?

Novriantoni: Sejak 2005 sudah tidak lagi, sekarang sudah dibawah yayasan yang kita buat sendiri “Yayasan Kajian Islam Utan Kayu” walaupun sebenarnya antara ISAI dan JIL masih satu komplek. Komunitas utan kayu kan banyak; ada radio, galeri, ISAI, kedai Tempo, teater dan lain-lain. Erham: Jaringan JIL saat ini sudah seluas apa? Novriantoni: Tidak terlalu luas. Kami terutama di Jawa, kalau diluar jawa paling di NTB, NTT, Medan, Lampung, Sumbar, sedagkan untuk daerah Kalimantan dan Sulawesi malah belum ada. Tapi memang fokus kita saat ini baru di jawa, terutama masyarakat menengah keatas terdidik, seperti anak-anak muda di dunia kampus. Jadi memang tidak berurusan langsung ke grassroot. Kita sadar bahwa membawa gagasan liberal ke kalangan grassroot memang tidak mudah. Perlu semacam intermediary atau perantara antara lapisan masyarakat grassroot dan kalangan elit. Mahasiswa kan kalangan elit. Maka biasanya kita kerja sama dengan kalangan BEM, kawan-kawan studi club di kampus, underbow organisasi islam, dan sebagainya.

Erham: Adakah obsesi ke depan untuk lebih melebarkan jaringan?

Novriantoni: sebenarnya keinginan itu Ada. Beberapa kali kita pernah mengumpulkan temen-temen jaringan kita dari beberapa daerah. Ada 40an orang saat itu. Beberapa rekan pernah mengajukan diri untuk menjadi cabang JIL di Jogja, Bandung, dan sebagainya. Tapi kami merasa belum punya kapasitas untuk itu, kita masih ingin JIL ini non-formal saja. Sebenarnya bisa saja (menjadi formal) itu dilakukan, ya tinggal bikin kode etik dan sebagainya, selebihnya mereka otonom dari JIL. Tapi kita menimbang banyak hal, kita menyadari bahwa tantangannya juga besar. Kita sih sudah biasa dengan ancaman, dan terror dan macam-macam itu. Kita sih sebenarnya ingin mempersilakan temen-temen di daerah jika memang berani mengambil resiko itu. Nah, teman-teman di daerah apakah siap dengan segala resiko itu. Lagipula kita juga tidak punya kapasitas misalnya untuk kunjungan ke daerah dan sebagainya. Jadi kita bikin less formal aja, yang tidak mengikat gitu. Relasi kita dengan daerah biasanya cuma di penerbitan bulletin dan diskusi kampus. Sebenarnya mas Ulil juga punya obsesi besar. Tapi kan mas ulil lagi belajar di Amerika. Jika dia sudah kembali bisa jadi ia berani mengambil langkah ini. Untuk sementara gini dulu. Tapi kalau sudah membengkak jadi organisasi formal kan juga jadi akan lebih susah bergeraknya. Semakin tambun tubuh semakin berat melangkah.

Erham: Jadi JIL menyebut simpatisannya sebagai apa?

Novriantoni: Mereka sebagai partner, bukan anggota Karena kita tidak punya kartu anggota JIL, bukan pula kader dan sebagainya. Karena gini, sebetulnya tantangan yang dihadapi JIL itu kan lebih kongkrit lagi dirasakan rekan-rekan di kampus atau daerah kan. Misalnya kita mengeluhkan fundamentalisme, radikalisme, wahabisme dan sebagainya yang merambah dunia kampus atau daerah, itu kan teman-teman di daerah masing-masing yang lebih merasakan. JIL Cuma memantau dari kejauhan. Dari tantangan riil kawan-kawan kan artinya mereka sudah bergulat sendiri. Jadi peran JIL ya hanya memfasilitasi cara pandang atau cara menghadapi persoalan, sedikit banyak memberikan amunisi wacana.

Erham: Secara keorganisasian JIL ini bagaimana?

Novriantoni: Kita juga ada ketua, sekretaris, dan bendahara, dsb, hal seperti itu kan mau tidak mau tetap harus ada kan. Tapi di kami istilahnya koordinator, dulu koordinatornya mas Ulil, terus Hamid Basyaib, Luthfi Assyaukani sampai sekarang, saya sendiri koordinator program yang memastikan semua program jalan.

Erham: Bagaimana sistem rekruitmen untuk masuk menjadi aktivis JIL?

Novriantoni: Tergantung kebutuhan, JIL tidak perlu banyak orang untuk mengurusya, aktifis JIL tidak pernah lebih dari 10 orang, sekarang juga cuma 7 orang. Rekruitmen sesuai kebutuhan, misalnya kita butuh officer untuk diskusi kampus. Saidiman direkrut karena program officer untuk diskusi kampus itu sudah pindah ke tempat lain, Anik pindah ke ICRP. Jadi JIL memberikan kebebasan untuk pindah ke tempat lain yang lebih baik, misalnya mas Anik ada tawaran jadi direktur ICRP ya kita persilakan beliau aktif disitu. Karena JIL tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada jenjang karir dsb. Sekedar honor salary bulanan sich ada. Kita tidak pernah buka lowongan terbuka, kita cuma ambil orang yang kita ketahui track recordnya.

Erham: darimana JIL membiayai kegiatannya?

Novriantoni: Dulu dari The Asia Foundation dari tahun 2001-2005. Pertengahan 2005 tidak dapat lagi dari TAF. Jadi sekarang JIL dananya dari voluntary (sumbangan sukarela). Misalnya Goenawan Mohamad saweran (sumbangan dana) buat JIL perbulan, dan beberapa orang lain simpatisan yang juga saweran untuk JIL, jadi ada beberapa orang yang support JIL terus menerus. Funding asing tidak kita pakai lagi, kecuali ada yang mengajak kerjasama, misalnya kedutaan ajak kerjasama program diskusi kampus, pengadaan buku dsb. Secara umum bukan funding yang menentukan program kita, mereka mau support oke, tidak mau juga gak apa apa. Kita yang menentukan program, bukan funding. Rejeki Tuhan kan banyak dimana-mana, he he. Donatur domestic kecil-kecilan juga ada. Ada yang ngasih sejuta perbulan ada tiga juta. Untuk kaya ya JIL memang tidak bisa, tapi ya sekedar untuk survive saja. Jadi, silakan cek, mana NGO yang paling aktif dengan dana paling minim. JIL itu NGO yang berdana kecil tapi kerjanya banyak. Hanya dengan 400jutaan JIL bisa bikin 50an diskusi dalam setahun. Dibandingkan lembaga lain yang dapat dana milyaran tapi kerjanya mana, tidak tampak.

Erham: Bagaimana JIL memandang kultur interreligious dialog di Indonesia saat ini?

Novriantoni: Kita sudah banyak kemajuan, di zaman Orde Baru dialog antar agama itu lebih sebagai “state sponsor”. Sebetulnya tidak ada dialog, Gejolak saat itu sebenarnya ada, dan saling ketidak sepahaman antar agama itu banyak, ada disertasi kawan kita di Leiden yang menyimpulkan bahwa yang terjadi di Indonesia adalah saling curiga antar agama. Meski Departemen Agama sejak Mukti Ali sudah coba merintis dialog itu, cuma itu hanya kebutuhan pemerintah akan stabilitas, bukan genuine dari perasaan umat beragama bahwa ada banyak problem, ada api dalam sekam dalam hubungan antar umat beragama. Dan orde baru sangat anti dengan yang namanya percekcokan meski kecil, apalagi besar. Saya kira pasca reformasi dialog antar agama itu sangat digalakkan. Dan coraknya agak beda dengan zaman Orba atau oleh pemerintah. Mulailah muncul upaya dialog yang bukan atas inisiatif pemerintah seperti lahirnya Interfidei, ICRP, dan sebagainya. Apalagi setelah terbukti “api dalam sekam hubungan antar agama” itu teryata menyala setelah reformasi. Sekarang sudah tampak lebih giat adanya dialog antar agama, dan live in antar agama, dsb. Kita selama ini kan dialognya Cuma co-eksistensi bukan proeksistensi atau kooperasi. Kita hidup saling kenal dan hormati tapi sekedar sama-sama hidup aja. Bukan, misalnya, kenapa Hindu nyepi – apa yang bisa saya lakukan- itu baru proeksistensi. Apalagi kalau harus sampai ke kooperasi, masih langka. Di era reformasi ini koeksistensi mengalami hambatan ketika ada konflik antara agama seperti di Poso. Jadi, terasa bahwa sekarang Ini kebutuhan ini bukan lagi state oriented tapi society oriented dan community oriented biar kita hidup berdampingan secara damai

Erham: Jadi untuk saat ini dialog macam apa yang perlu ditekankan?

Novriantoni: Selama ini simpul dialog itu sudah ada di masyarakat awam. Selama ini asumsi kita dialog itu Cuma di kalangan elit. Padahal sebenarnya di kalangan awam sendiri sudah punya bekal sendiri. Kedua, mungkin isu utama sudah berubah, tapi saya tidak setuju jika dikatakan bahwa dialog teologis sudah tak lagi penting, sebab ini fundamentnya. Ga mungkin kan kita dialog tanpa memahami dasarnya. Aksi kan dibentuk oleh paradigma/persepektif kita. Kalo persepktif kita masih salah atau tidak memuat unsur mutual understanding ya akan susah saling memahami. Makanya yang kita kembangkan sekarang semisal live in antar agama agar mereka saling memahami. Islam ke gereja Kristen ke masjid agar mereka saling emmahami. Masyarakat yang saling terbuka saling mengerti justru menjadi masyarakat yang lebih imun dengan profokasi. Ketiga, ya seperti Hans Kung itu, kita butuh etika bersama (global ethic). Tak perlu melihat agama apa, asal ada kemiskinian ya kita selesaikan bersama. Keempat, kritisisme ke policy pemerintah itu perlu. Kebijakan sat ini bisa berkembang ke anti demokrasi atau state driven lagi, karena setiap ada konflik kita serahkan ke pemerintah. Padahal pemerintah punya agenda sendiri, yang penting gimana kekuasaan mereka bisa langgeng, jadi bukan kepentingan salaing memahami antar agama. Pemerintah Cuma berupaya mengontrol semua kelompok civil society, kelompok agama, kelompok kritis, dsb. Misalnya UUKUB, keputusan untuk kelompok minoritas, dsb. Kekangan yang menimpa satu kelompok kan menjadi jalan bagi pemerintah untuk pengekangan yang lain. Jadi kritik dari kawan-kawan perlu diarahkan ke state policy: bagaimana penerintah menghadapi gejolak antar agama, bagaimana menghadapi fenomena sosial baru, sebenarnya masalah ini kan sudah ada sejak zaman orba, cuma di masa kini kan lebih terekspos, lebih bebas orang memperbincangkannya, dan lebih mudah orang menghakimi maupun membela. Jadi tidak ada yang baru sebenarnya, cuma lebih terekspos bebas.

Erham: Menurut JIL bagaimana peran pemerintah saat ini, apakah pemerintah masih terlalu lemah?

Novriantoni: Pemerintah belum punya formula, mereka masih bingung juga, bagaimana menghadapi kasus antar agama dan fenomena social dan keagamaan baru. Karena kita kan lama, bahkan sejak masa Soekarno pemerintah berperan secara determinan dalam segala perkara. Sekarang kita menghadapi masyarakat civil society dan agama yang lebih otonom dari pemerintah dan memunculkan banyak perkara. Kita mengharap pemerintah punya standar kelompok apa yang bisa ditoleransi dan kelompok mana yang tidak. Tapi selama ini memang kelihatannya belum ada standar itu. Taruhlah misalnya kita lihat SKB untuk ahmadiyah, apa logisnya. Pada satu sisi kita melihat cukup moderat, tapi pemerintah masih belum punya standar apa yang bisa ditoleran dan yang tidak. Pemerintah kita saat ini sangat rentan terhadap pressure. Ketika SBY bilang, “Negara tak boleh kalah”, mengapa dia bilang gitu, kalau dilihat mafhum mukhalafah-nya bias disimpulkan bahwa ada perasaan bahwa selama ini pemerintah kalah. Karena sudah lama terbiar kasus pembakaran pengusiran dsb itu. Harusnya pemerintah bilang “oke anda beda, tapi sekali anda membakar mengusir ricuh anda akan berhdapan dengan yang diatas (hukum Negara)”. Yang kita liat kan sebaliknya, anda lihat orang Ahmadiyah di NTB mereka tidak boleh pulang ke rumah.. Bayangkan betapa susahnya mengumpulkan uang untuk beli rumah, kendaraan dsb. Mereka terlanggar hak ekonomi dan sosial nya. pelanggaran ini malah dikukuhkan keputusan bupati dsbnya. Harusnya kan pemerintah melindungi hak ekonomi sosial budaya dan politik seluruh warga Negara Indonesia tanpa kecuali. Selama ini kita tidakmelihat adanya standar semacam itu, jadi selama ini gak jelas apa standar yang diapakai pemerintah saat ini

Erham: Termasuk merebaknya perda bernuansa syariat, menurut anda apakah ini sebagai sebuah kecolongan bagi pemerintah?

Novriantoni: Ini lebih rumit lagi, kita merasa, kadang itu sifatnya politis karena bupati yang incumbent ingin merebut simpati masa. Tapi disisi lain kita melihat masyarakat kita rentan juga untuk terbuai mimpi otoritrianisme, mimpi sebuah order semuanya teratur, dsb, dengan cara membuat perda jilbab, ga boleh peremuan keluar malem, jum’at khusu’ dsb. Ini berbahaya sebab sejarah kinta menunjukkan bahwa wahabisasi masyarakat itu bukan sporadic, dia berlangsung sistematis meskipun dikerjakan secara sporadic di tempat yang mungkin seperti di daerah di yang jauh dari pusat pemerintahan, seperti di bulukumba dsb. Pemerintah pun bingung, missal anda Tanya gimana sikap kementrian dalam negeri menghadapi perda-perda bermasalah, apakah mereka berani menganulirnya. Jadi masih ada kegamangan antara euphoria demokrasi dan keinginan menyampaikan aspirasi primordial dengan kehendak pemerintah untuk meregulasi apresisasi yang sangat liar ini. Mendagri tidak berani mengatakan “jangan terapkan ini, ini wewenang pusat bukan bagian dari otonomi”. Saya berharap suatu saat nanti masyarakat jenuh dengan hal semacam itu. Mengapa kita bersuara lantang seperti ini. Semua hukum yang tidak didasarkan keilahian lebih gampang direvisi ketimbang hukum yang didasarkan atas keilahian /sacral, itu akan sulit diubah jika ternyata keliru. Meskipun hukum itu dilaksanakan serampangan tetap akan ada orang yang siap mati mempertahankannya. Kalo hukum sekuler, terbukti keliru kita akan lebih mudah merubahnya. Jadi relativisme itu sangat perlu dalam demokrasi.kalo kita keliru kita mengubah, sementara absolutism bisa jadi sangat tidak compatible dengan demokrasi. Sekarang ada orang yang bilang, meskipun ada hukum seperti itu tapi tetap ga jalan. Ya Alhamdulillah kalo ga jalan, dan nau’udzubillah kalau sampe berjalan. Tapi problemnya adalah, mereka akan menunggu pressure group yang lebih kuat sehingga menemukan momentumnya untuk dijalankan seperti di Aceh. Mungkin orang bisa bahagia karena Indonesia sangat plural, Talibanisasi mungkin tidak akan terjadi di Indonesia. Tapi kita perlu waspada, sejarahnya talibanisasi dan wahabisasi di Indoneia pertama sudah terjadi di Sumatera Barat tahun 1800an.

Erham: Jika dibandingkan dialog agama dan demokrasi di Indonesia dengan Negara lain, apakah Indonesia tertinggal?

Novriantoni: Indonesia tergolong maju, anda akan kesulitan menemukan dialog antar agama di Negara lain dengan participant yang lebih variatif dengan intensitas yang cukup tinggi dan kerjasama yang cukup baik. Di Mesir, dialog hanya terjadi antara islam dan Kristen koptik saja. Di Indonesia diiringi oleh demokrasi dimungkinkan terlaksana dengan lebih damai dan terbuka. Di Malaysia sangat terbelakang., orang Kristen saja tidak boleh menyebut Alloh, yoga diharamkan, banyak hal yang masih terbelakang di Malaysia, walaupun mereka masyarakat yang sangat rentan. Muslimnya cuma 60%, kalo sedikit saja terjadi chaos, seperti yang dialami Indonesia 1998, konflik rasial dan konflik agamanya bisa lebih dahsyat daripada Indonesia. Singapura, negara yang undercontrol oleh pemerintah sehingga dialog bisa diakatakan tidak terjadi. Yang agak baik ya Turki. Intinya Indonesia memang punya keunikan/khas. Makanya ada CRCS kan?.. ha…ha..

Erham: Program JIL sendiri yang focus ke Interreligious Dialog apa saja?

Novriantoni: Hampir semua program kita sensitive interreligious dialog. Yang rutin ya diskusi, artikel website, talkshow radio, dan anda jangan lupa, saya rasa hanya talkshow kita yang secara bebas memperbincangkan semua agama kita undang mereka untuk bicara. Semua program kita punya dimensi dialog antar agama, punya keinginan meningkatkan pemahaman antar agama.

Erham: Kalo advokasi bagi minoritas etnis dan gender?

Novriantoni: Minoritas Gender tidak langsung, minoritas etnis tidak nyata, tapi kalo minoritas agama iya. Kita advokasi ahmadiyah, Lia Eden, kelompok penghayat, advokasi kelompok yang dikriminalkan karena pandangan keaagamaannya. Tapi untuk masuk ke minoritas gender dsb memang agak riskan bagi kita, mungkin memang bukan porsi kita, intinya kiita mendukung hak setiap orang untuk punya otonomi individunya sepanjang tidak merecoki orang lain, prinsip itu yang kita dukung

Erham: Tahun 2009 ini, JIL mau focus ke mana?

Novriantoni: 2009 kita mau focus ke capacity building. Kita merasa setelah 8 tahun ada banyak kelemahan dalam SDM. Kita tak punya capasiti building yang baik. Jangan lupa, kadang sejarah Islam Indonesia mengalami moderasi karena ada individu atau kelompok yang sengaja atau tak sengaja disiapkan untuk berani bersuara melawan konservatisme, dan fundamentalism. Kalau tidak ada Cak Nur, Gus Dur, Dawam, Syafii Maarif, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, yang punya pengaruh di level organizational dan akar rumput, Islam di Indonesia itu bisa gawat. Jangan lupa, funding Arab Saudi itu besar sekali, jauh lebih besar daripada funding dari TAF 1 milyar setahun. Arab Saudi bisa ratusan milyar. Kalo anda baca sejarah betapa dahsyatnya funding Saudi untuk DDII Natsir. Funding itu sekarang larinya ke DDII, PKS beberapa, FPI, Laskar Jihad, HTI enggak. Jadi kita terselamatkan oleh orang-orang yang saya sebut tadi. Kita tak bisa mengharap pada Gus Dur terus menerus, kita perlu mencetak Gusdur, Caknur, Wahib baru. Tak perlu dominan, tak perlu jadi mayoritas, minoritas saja sudah cukup, tapi jangan sampai gak ada sama sekali.

Erham: Seandainya JIL jadi mayoritas, dalam arti sudah punya banyak pengikut, apakah JIL mau ke politik praktis?

Novriantoni: Ah tidak, Bukan kapasitas kita mas, ya karena orangnya ga ada… JIL dalam beberapa hal bisa bertemu partai2 nasional. Dalam hal politik kita ini konservatif lho. Dalam arti mengkonservasi apa yang dirumuskan founding father kita, Bhineka tunggal ika dsb. Kita menganggap itu sejarah yang perlu dilanjutkan, dan pada titik itu kita bisa saja punya titik temu dengan parpol yang concern dalam platform yang sama.

Erham: Ada anggapan bahwa JIL merupakan lembaga yang “liberal eksklusif”. Dalam arti bahwa JIL jaga jarak dengan kelompok lain yang tidak sepaham. Apakah hal itu benar?

Novriantoni: Dalam beberapa hal memang benar. Gini ya, kalo anda punya program talkshow radio apakah perlu mengundang FPI atau tidak. Saya rasa tidak perlu karena suara mereka sudah lantang didengar di media lain. Nah, gagasan JIL itu kan sebenarnya gagasan yang lemah di level kemasyarakatan. Kalau dibanding PKS dan lain-lain yang sangat well-organized, ya JIL gak ada apa-apanya. Eksklusif pada aspek itu iya, kita promoting gagasan yang sebenarnya belum well-accepted, tapi jangan dianggap bahwa Sesutu yang tidak diterima itu tidak baik. Anda bayangkan tahun 70an Cak Nur punya gagasan yang tidak diterima, tapi tahun 2000an gagasan itu kan mulai diterima, bahkan PKS saja lebh suka membawa piagam Madinah ketimbang piagam Jakarta. Jadi beberapa kali kita juga dialog dengan mereka, tapi ya dialog mereka kan pakai teriak-teriak gitu, jadi dialog tidak kondusif kalau dengan teriak-teriak.

Oleh: erhambudi | Februari 21, 2009

Nikmatnya Musik Yoga

Nikmatnya Musik Yoga

 

“Saatnya telah tiba dimana aku akan menemuiMu dan menari bersamaMu

Dengan menghirup kegembiraan, kinilah saatnya hidup dalam kebahagiaan yang sempurna”

 

Syair itu merupakan ungkapan kebahagiaan seseorang tatkala merasa menemukan “Yang Dicintainya.” Itulah kebahagiaan di saat-saat intim bersama Tuhan. Ungkapan itulah yang sepertinya ingin disampaikan Deva Premal dalam lagunya Tumare Darshan.

 

Tadi sore, ketika kepala penat karena tugas kuliah, aku memutar lagu itu berulang kali. Terasa nikmat sekali, serasa melayang, apalagi sambil menghayati syairnya:

“Tumare darshan ki bela, ye mausam raas rachane ka (Saatnya telah tiba dimana aku akan menemuiMu dan menari bersamaMu), Liye ullas ki sanse, samay masti me jine ka (Dengan menghirup kegembiraan, kinilah saatnya hidup dalam kebahagiaan yang sempurna)”


Sentiment-ku sebagai muslim tiba-tiba muncul, sepertinya akan lebih nikmat jika lagu ini ditambahi backing vocal yang melantunkan bacaan tahlil “laa ilaha ilallah” secara ritmik, seperti yang sering kita dengar di pengajian tahlilan di kampung-kampung.

Akupun mencobanya, dan…….nikmat sekali.

 

Saat itulah ada rasa ingin menari dan berputar…..

seperti para Darwis,

bersama Rumi.

 

Selebihnya, ada rasa dingin dan damai

  

*******************&&&&******************

 

Aku teringat ketika di pesantren dulu, pesantren yang mengaku netral tapi semua pengurusnya orang Muhammadiyah. Pengasuhku yang Muhammadiyin agak alergi dengan yang namanya tahlilan. Suatu saat kami dihadapkan pada situasi dimana kami harus menghadiri acara yasinan dan tahlilan. Karena agak alergi, pak pengasuh tidak ikut mengucapkan kalimat tahlil yang sedang dikumandangkan, tapi, entah ia sengaja atau tidak, tubuhnya ikut bergerak kanan-kiri mengikuti ritme bacaan tahlil yang membahana. Rupanya, meski dia bisa menerima sikap anti tradisi tahlilan, namun dia tetap tidak bisa menolak nikmatnya ritme tahlil.

Aku teringat pula masa kecil di kampung kakekku, di kaki gunung Merapi. Ketika Muhammadiyah belum bercokol disana, kampung itu NU banget. Momen yang tak bisa kulupa adalah apa yang mereka sebut wiridan. Tradisi itu tak bisa kulupa karena wiridan adalah bagian paling menyebalkan bagi seorang anak yang legi seneng bermain sepertiku. Tak pelak lagi, ketika wiridan dimulai aku segera merengek mengajak ibuku pulang. Anak mana yang tidak bosan mengikuti wiridan yang dilaksanakan dari selesai maghrib sampai menjelang ‘isya? Lama banget kan.

Tapi saat ini, malah ada kerinduan untuk mengikutinya. Ada kerinduan pada tahlilan, kalimah-kalimah thoyibah yang tak sepenuhnya kupahami maknanya, namun tetap merindukan karena kenikmatan atsmosfirnya. Aku rindu bacaan-bacaan kalimat thoyibah yang dibaca secara ritmik dan bisa dinikmati sambil merem. Antara ngantuk dan jaga, antara sadar dan lelap, antara ada dan sirna.

Mungkin itulah rahasia mengapa orang-orang di kampung justru lebih teduh pandangannya; karena ada metode relaksasi yang mentradisi. Sehingga mereka bisa menjadi orang yang santun, tulus, ramah dan tepo seliro (tolerance). Tapi orang-orang sekarang, mengaku ulama, mengaku ustad, merasa ngerti agama, tapi garang-garang kayak rampok.

Sedih………

Oleh: erhambudi | Januari 10, 2009

Bantuan untuk tanah bersimbah darah

bersimbah-darahSenilai 500 juta rupiah, diantar susah payah. Meski dikatakan sebagai wujud kepedulian dan etika kemanusiaan, namun jumlah itu terlampau kecil untuk bangsa sebesar Indonesia. Jumlah itu hanya setara dengan dana yang tanpa sadar digelontorkan seorang ABG kaya untuk memodifikasi mobil kesayangannya supaya menang turnamen modifikasi di Jakarta. Dana itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan korupsi seorang anggota dewan Daerah, dana segitu juga cuma setara dengan harga sebuah mobil yang belum bisa disebut mewah. Dana segitu terlalu sedikit, mungkin dana itu cerminan kemampuan sebuah bangsa yang rakyatnya sedang pailit, atau memang terlalu pelit.

Ada yang menawarkan bantuan lain, nyawa. Ratusan orang telah mendaftar menjadi mujahidin, berperang fii sabilillah katanya. Berbekal prestasi juara pencak silat tingkat RT, Ali berniat mendaftar diri siap mati syahid. Ia cukup iri dengan beberapa rekan yang mengaku alumni gemblengan Afghanistan. Namun semangat jihadnya memang tak terkalahkan. Saya miris melihatnya, mampukah jurus pencak silat menepis kecepatan timah panas yang sepersekian detik? Mampukah ilmu tenaga dalam warisan si Jampang dan si Pitung meredam dentuman meriam, roket dan tank-tank Israel? Mampukah taktik dan strategi perang bukit melawan teknologi pengawas dengan citra satelit? Saya miris melihatnya. Tentu saya tak perlu bertanya, sebab saya hanya akan dianggap tak beriman kukuh, pengecut, penakut, tak percaya mukjizat dan sebagainya. Mereka tentunya akan menjawab bahwa Allah akan menolong hambaNya, bahwa Allah akan menurunkan pasukan malaikat berkuda putih yang akan melibas habis serdadu dan peralatan militer Israel.  Ada baiknya saya tak perlu bertanya.

Tapi, saya yakin, banyak yang bingung bersikap, tak tahu bagaimana cara membantu. Akankah merelakan jiwa ke medan laga, atau transfer rekening menyumbang ke palestina, atau cukup disini memanjat doa? Setidaknya dua yang terakhir adalah wajib, sedang yang pertama, tampaknya masih ada alternative lain. Tentunya seseorang tidak perlu kesana sekedar modal nekad menuruti letupan emosi, karena kemungkinan menang melawan serdadu terlatih dengan peralatan canggih memang tipis. Tentu ini bukan pesimisme, hanya sebuah nalar sederhana.

Saya tertarik ketika sekumpulan hacker membobol situs-situs penting dan resmi milik Israel sebagai bentuk kepedulian mereka. Saya juga tertarik ketika boikot produk dilakukan di Malaysia,mungkin ini juga bagian jihad mereka. Juga demonstrasi yang terus marak, itu juga bentuk bantuan penting meski tak langsung berefek. Setelah bantuan dana dan doa kita ulurkan, saya dan anda tentunya perlu menambah satu sumbangan lagi, semampu, sebisa, sesuai keahlian kita.

Day 13

Oleh: erhambudi | Januari 10, 2009

Israel memang……

Semua tahu ini tak mudah berakhir. Mungkin tak akan. Israjet-israel2el sebenarnya tak butuh alasan, tak perlu alibi. Israel tak segagap Bush yang berkilah memburu teroris, melucut nuklir, dan menegakkan demokratisasi di Timur Tengah. Yang dibutuhkan Israel hanyalah bedil yang tetap terisi, langu mesiu tetap meletup bertalu, dan pesawat tempur tetap ngawur.

Israel yakin warga dunia yang besar ini tak akan berbuat apa-apa, paling-paling mengutuk, berdemo, aksi teatrikal, bakar bendera dan patung, dan berbagai kepolosan lain yang tak berarti apa-apa. Bagi Israel warga dunia hanyalah Goliath yang telah ditaklukkannya. Israel tak perlu malu-malu kucing seperti Bush, Israel memang si kecil bernyali besar. Mirip David. Tapi kini si kecil David makin bertingkah, kian lupa diri, yang diingat cuma ambisi.

Sebagai saudara sebapak lain ibu, orang Arab telah lama jadi seteru. Ini adalah perseteruan saudara tiri berebut warisan bapak mereka, Abraham. Israel mengunyah saudara sendiri tiap harinya. Ratusan jiwa ditelan mentah, ribuan lainnya dibiarkan meradang. Si kecil David merompak bantuan pangan dan medis, meruntuhkan terowongan melantakkan jalanan. Mengapa si kecil David demikian bengis?

Karena dia punya ketapel besar, selain pesawat tempur, tank, dan rudal, arsenal nuklir di Israel sudah cukup, bahkan yang ada di Amerika juga titipan milik Israel, termasuk pula yang di India jika memang ada. Sementara Iran dan Korut belum bisa dibilang punya. Jadi, tidak ada yang bisa menghentikan ini semua.

Israel memang kecil, namun cengkeramannya terlampau kuat, dia kokoh, tak bergeming di usik lembing, resolusi DK PBB pun cuma dipandang sebagai bualan, hanya omong kosong….cuma selongsong kopong

Semakin hari harusnya penduduk bumi makin ngerti, bahwa, ini bukan perang agama, bukan perseteruan politik semata, ini sudah diluar batas kewajaran di zaman yang konon beradab, ini sebuah sikap anti-manusia; mungkinkah Israelists itu memang bukan manusia? Saya teringat ucapan gadis mungil bernama Basmallah dalam documenter bertajuk Fitna kreatifitas Geertz Wilder, mungkin sebutan apes and pigs memang pantas disandang Israelists. Saya ingin sekali tidak percaya stigma ini, tapi kenapa kini aggressor Israel malah membuktikan bahwa hal itu benar adanya?

Israel attack to Palestine, Day 7th

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.