Interreligious Dialog dan Demokrasi menjadi agenda wajib bagi Jaringan Islam Liberal ( JIL) karena lembaga ini memang dibentuk guna merespon kebutuhan tersebut sebagai salah satu gerbong dari rangkaian kereta reformasi di negeri ini. Profil tentang JIL dan perannya dalam interreligious dialog ini terungkap dalam wawancara Erham Budi Wiranto dengan Novriantoni, koordinator program pada Jaringan Islam Liberal, yang dilaksanakan di kantor JIL, Utan Kayu Jakarta, 27 Maret 2009 lalu. Berikut ini petikannya:
Erham : sebenarnya, apa latar belakang dibentuknya JIL, mungkin bisa diceritakan sejarahnya?
Novriantoni: di saat mulai bergulirnya reformasi yang saat itu digawangi Amien Rais dan rekan-rekan terutama kawan-kawan mahasiswa, era kebebasan media kan dimulai. Maka pada waktu itu teman-teman sudah memikirkan perlunya sebuah wadah untuk menampung ide-ide kebebasan beragama yang semasa orde baru selalu didikte pemerintah. Kalau resminya JIL berdiri, ya sejak 8 maret 2001, yang ditandai dengan dibuatnya website JIL. Program kerja yang dilaksanakan waktu itu sederhana saja, seperti sindikasi media di Koran Tempo dan talkshow radio tentang agama dan toleransi. Secara kelembagaan awalnya JIL berdiri dibawah ISAI (institute Studi Arus Informasi). Jadi semacam bidang kajian atau diskusi Islam pada lembaga tersebut. Kantor ISAI juga disini, di utan kayu.
Erham: Mengapa memililih bentuk jaringan?
Novriantoni: karena alasan praktis atau pragmatis saja, ya biar lebih mudah dikelola dengan resources (sumber daya) yang terbatas. Selain itu JIL tidak berhasrat untuk menjadi ormas seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam dan sebagainya. JIL lebih sebagai lembaga pemikiran, lembaga tempat para kawan-kawan muda yang punya pikiran mencerahkan berhimpun. Selain itu ya karena kesiapan kita cuma itu.
Erham : Apakah secara kelembagaan JIL saat ini masih dibawah ISAI?
Novriantoni: Sejak 2005 sudah tidak lagi, sekarang sudah dibawah yayasan yang kita buat sendiri “Yayasan Kajian Islam Utan Kayu” walaupun sebenarnya antara ISAI dan JIL masih satu komplek. Komunitas utan kayu kan banyak; ada radio, galeri, ISAI, kedai Tempo, teater dan lain-lain. Erham: Jaringan JIL saat ini sudah seluas apa? Novriantoni: Tidak terlalu luas. Kami terutama di Jawa, kalau diluar jawa paling di NTB, NTT, Medan, Lampung, Sumbar, sedagkan untuk daerah Kalimantan dan Sulawesi malah belum ada. Tapi memang fokus kita saat ini baru di jawa, terutama masyarakat menengah keatas terdidik, seperti anak-anak muda di dunia kampus. Jadi memang tidak berurusan langsung ke grassroot. Kita sadar bahwa membawa gagasan liberal ke kalangan grassroot memang tidak mudah. Perlu semacam intermediary atau perantara antara lapisan masyarakat grassroot dan kalangan elit. Mahasiswa kan kalangan elit. Maka biasanya kita kerja sama dengan kalangan BEM, kawan-kawan studi club di kampus, underbow organisasi islam, dan sebagainya.
Erham: Adakah obsesi ke depan untuk lebih melebarkan jaringan?
Novriantoni: sebenarnya keinginan itu Ada. Beberapa kali kita pernah mengumpulkan temen-temen jaringan kita dari beberapa daerah. Ada 40an orang saat itu. Beberapa rekan pernah mengajukan diri untuk menjadi cabang JIL di Jogja, Bandung, dan sebagainya. Tapi kami merasa belum punya kapasitas untuk itu, kita masih ingin JIL ini non-formal saja. Sebenarnya bisa saja (menjadi formal) itu dilakukan, ya tinggal bikin kode etik dan sebagainya, selebihnya mereka otonom dari JIL. Tapi kita menimbang banyak hal, kita menyadari bahwa tantangannya juga besar. Kita sih sudah biasa dengan ancaman, dan terror dan macam-macam itu. Kita sih sebenarnya ingin mempersilakan temen-temen di daerah jika memang berani mengambil resiko itu. Nah, teman-teman di daerah apakah siap dengan segala resiko itu. Lagipula kita juga tidak punya kapasitas misalnya untuk kunjungan ke daerah dan sebagainya. Jadi kita bikin less formal aja, yang tidak mengikat gitu. Relasi kita dengan daerah biasanya cuma di penerbitan bulletin dan diskusi kampus. Sebenarnya mas Ulil juga punya obsesi besar. Tapi kan mas ulil lagi belajar di Amerika. Jika dia sudah kembali bisa jadi ia berani mengambil langkah ini. Untuk sementara gini dulu. Tapi kalau sudah membengkak jadi organisasi formal kan juga jadi akan lebih susah bergeraknya. Semakin tambun tubuh semakin berat melangkah.
Erham: Jadi JIL menyebut simpatisannya sebagai apa?
Novriantoni: Mereka sebagai partner, bukan anggota Karena kita tidak punya kartu anggota JIL, bukan pula kader dan sebagainya. Karena gini, sebetulnya tantangan yang dihadapi JIL itu kan lebih kongkrit lagi dirasakan rekan-rekan di kampus atau daerah kan. Misalnya kita mengeluhkan fundamentalisme, radikalisme, wahabisme dan sebagainya yang merambah dunia kampus atau daerah, itu kan teman-teman di daerah masing-masing yang lebih merasakan. JIL Cuma memantau dari kejauhan. Dari tantangan riil kawan-kawan kan artinya mereka sudah bergulat sendiri. Jadi peran JIL ya hanya memfasilitasi cara pandang atau cara menghadapi persoalan, sedikit banyak memberikan amunisi wacana.
Erham: Secara keorganisasian JIL ini bagaimana?
Novriantoni: Kita juga ada ketua, sekretaris, dan bendahara, dsb, hal seperti itu kan mau tidak mau tetap harus ada kan. Tapi di kami istilahnya koordinator, dulu koordinatornya mas Ulil, terus Hamid Basyaib, Luthfi Assyaukani sampai sekarang, saya sendiri koordinator program yang memastikan semua program jalan.
Erham: Bagaimana sistem rekruitmen untuk masuk menjadi aktivis JIL?
Novriantoni: Tergantung kebutuhan, JIL tidak perlu banyak orang untuk mengurusya, aktifis JIL tidak pernah lebih dari 10 orang, sekarang juga cuma 7 orang. Rekruitmen sesuai kebutuhan, misalnya kita butuh officer untuk diskusi kampus. Saidiman direkrut karena program officer untuk diskusi kampus itu sudah pindah ke tempat lain, Anik pindah ke ICRP. Jadi JIL memberikan kebebasan untuk pindah ke tempat lain yang lebih baik, misalnya mas Anik ada tawaran jadi direktur ICRP ya kita persilakan beliau aktif disitu. Karena JIL tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada jenjang karir dsb. Sekedar honor salary bulanan sich ada. Kita tidak pernah buka lowongan terbuka, kita cuma ambil orang yang kita ketahui track recordnya.
Erham: darimana JIL membiayai kegiatannya?
Novriantoni: Dulu dari The Asia Foundation dari tahun 2001-2005. Pertengahan 2005 tidak dapat lagi dari TAF. Jadi sekarang JIL dananya dari voluntary (sumbangan sukarela). Misalnya Goenawan Mohamad saweran (sumbangan dana) buat JIL perbulan, dan beberapa orang lain simpatisan yang juga saweran untuk JIL, jadi ada beberapa orang yang support JIL terus menerus. Funding asing tidak kita pakai lagi, kecuali ada yang mengajak kerjasama, misalnya kedutaan ajak kerjasama program diskusi kampus, pengadaan buku dsb. Secara umum bukan funding yang menentukan program kita, mereka mau support oke, tidak mau juga gak apa apa. Kita yang menentukan program, bukan funding. Rejeki Tuhan kan banyak dimana-mana, he he. Donatur domestic kecil-kecilan juga ada. Ada yang ngasih sejuta perbulan ada tiga juta. Untuk kaya ya JIL memang tidak bisa, tapi ya sekedar untuk survive saja. Jadi, silakan cek, mana NGO yang paling aktif dengan dana paling minim. JIL itu NGO yang berdana kecil tapi kerjanya banyak. Hanya dengan 400jutaan JIL bisa bikin 50an diskusi dalam setahun. Dibandingkan lembaga lain yang dapat dana milyaran tapi kerjanya mana, tidak tampak.
Erham: Bagaimana JIL memandang kultur interreligious dialog di Indonesia saat ini?
Novriantoni: Kita sudah banyak kemajuan, di zaman Orde Baru dialog antar agama itu lebih sebagai “state sponsor”. Sebetulnya tidak ada dialog, Gejolak saat itu sebenarnya ada, dan saling ketidak sepahaman antar agama itu banyak, ada disertasi kawan kita di Leiden yang menyimpulkan bahwa yang terjadi di Indonesia adalah saling curiga antar agama. Meski Departemen Agama sejak Mukti Ali sudah coba merintis dialog itu, cuma itu hanya kebutuhan pemerintah akan stabilitas, bukan genuine dari perasaan umat beragama bahwa ada banyak problem, ada api dalam sekam dalam hubungan antar umat beragama. Dan orde baru sangat anti dengan yang namanya percekcokan meski kecil, apalagi besar. Saya kira pasca reformasi dialog antar agama itu sangat digalakkan. Dan coraknya agak beda dengan zaman Orba atau oleh pemerintah. Mulailah muncul upaya dialog yang bukan atas inisiatif pemerintah seperti lahirnya Interfidei, ICRP, dan sebagainya. Apalagi setelah terbukti “api dalam sekam hubungan antar agama” itu teryata menyala setelah reformasi. Sekarang sudah tampak lebih giat adanya dialog antar agama, dan live in antar agama, dsb. Kita selama ini kan dialognya Cuma co-eksistensi bukan proeksistensi atau kooperasi. Kita hidup saling kenal dan hormati tapi sekedar sama-sama hidup aja. Bukan, misalnya, kenapa Hindu nyepi – apa yang bisa saya lakukan- itu baru proeksistensi. Apalagi kalau harus sampai ke kooperasi, masih langka. Di era reformasi ini koeksistensi mengalami hambatan ketika ada konflik antara agama seperti di Poso. Jadi, terasa bahwa sekarang Ini kebutuhan ini bukan lagi state oriented tapi society oriented dan community oriented biar kita hidup berdampingan secara damai
Erham: Jadi untuk saat ini dialog macam apa yang perlu ditekankan?
Novriantoni: Selama ini simpul dialog itu sudah ada di masyarakat awam. Selama ini asumsi kita dialog itu Cuma di kalangan elit. Padahal sebenarnya di kalangan awam sendiri sudah punya bekal sendiri. Kedua, mungkin isu utama sudah berubah, tapi saya tidak setuju jika dikatakan bahwa dialog teologis sudah tak lagi penting, sebab ini fundamentnya. Ga mungkin kan kita dialog tanpa memahami dasarnya. Aksi kan dibentuk oleh paradigma/persepektif kita. Kalo persepktif kita masih salah atau tidak memuat unsur mutual understanding ya akan susah saling memahami. Makanya yang kita kembangkan sekarang semisal live in antar agama agar mereka saling memahami. Islam ke gereja Kristen ke masjid agar mereka saling emmahami. Masyarakat yang saling terbuka saling mengerti justru menjadi masyarakat yang lebih imun dengan profokasi. Ketiga, ya seperti Hans Kung itu, kita butuh etika bersama (global ethic). Tak perlu melihat agama apa, asal ada kemiskinian ya kita selesaikan bersama. Keempat, kritisisme ke policy pemerintah itu perlu. Kebijakan sat ini bisa berkembang ke anti demokrasi atau state driven lagi, karena setiap ada konflik kita serahkan ke pemerintah. Padahal pemerintah punya agenda sendiri, yang penting gimana kekuasaan mereka bisa langgeng, jadi bukan kepentingan salaing memahami antar agama. Pemerintah Cuma berupaya mengontrol semua kelompok civil society, kelompok agama, kelompok kritis, dsb. Misalnya UUKUB, keputusan untuk kelompok minoritas, dsb. Kekangan yang menimpa satu kelompok kan menjadi jalan bagi pemerintah untuk pengekangan yang lain. Jadi kritik dari kawan-kawan perlu diarahkan ke state policy: bagaimana penerintah menghadapi gejolak antar agama, bagaimana menghadapi fenomena sosial baru, sebenarnya masalah ini kan sudah ada sejak zaman orba, cuma di masa kini kan lebih terekspos, lebih bebas orang memperbincangkannya, dan lebih mudah orang menghakimi maupun membela. Jadi tidak ada yang baru sebenarnya, cuma lebih terekspos bebas.
Erham: Menurut JIL bagaimana peran pemerintah saat ini, apakah pemerintah masih terlalu lemah?
Novriantoni: Pemerintah belum punya formula, mereka masih bingung juga, bagaimana menghadapi kasus antar agama dan fenomena social dan keagamaan baru. Karena kita kan lama, bahkan sejak masa Soekarno pemerintah berperan secara determinan dalam segala perkara. Sekarang kita menghadapi masyarakat civil society dan agama yang lebih otonom dari pemerintah dan memunculkan banyak perkara. Kita mengharap pemerintah punya standar kelompok apa yang bisa ditoleransi dan kelompok mana yang tidak. Tapi selama ini memang kelihatannya belum ada standar itu. Taruhlah misalnya kita lihat SKB untuk ahmadiyah, apa logisnya. Pada satu sisi kita melihat cukup moderat, tapi pemerintah masih belum punya standar apa yang bisa ditoleran dan yang tidak. Pemerintah kita saat ini sangat rentan terhadap pressure. Ketika SBY bilang, “Negara tak boleh kalah”, mengapa dia bilang gitu, kalau dilihat mafhum mukhalafah-nya bias disimpulkan bahwa ada perasaan bahwa selama ini pemerintah kalah. Karena sudah lama terbiar kasus pembakaran pengusiran dsb itu. Harusnya pemerintah bilang “oke anda beda, tapi sekali anda membakar mengusir ricuh anda akan berhdapan dengan yang diatas (hukum Negara)”. Yang kita liat kan sebaliknya, anda lihat orang Ahmadiyah di NTB mereka tidak boleh pulang ke rumah.. Bayangkan betapa susahnya mengumpulkan uang untuk beli rumah, kendaraan dsb. Mereka terlanggar hak ekonomi dan sosial nya. pelanggaran ini malah dikukuhkan keputusan bupati dsbnya. Harusnya kan pemerintah melindungi hak ekonomi sosial budaya dan politik seluruh warga Negara Indonesia tanpa kecuali. Selama ini kita tidakmelihat adanya standar semacam itu, jadi selama ini gak jelas apa standar yang diapakai pemerintah saat ini
Erham: Termasuk merebaknya perda bernuansa syariat, menurut anda apakah ini sebagai sebuah kecolongan bagi pemerintah?
Novriantoni: Ini lebih rumit lagi, kita merasa, kadang itu sifatnya politis karena bupati yang incumbent ingin merebut simpati masa. Tapi disisi lain kita melihat masyarakat kita rentan juga untuk terbuai mimpi otoritrianisme, mimpi sebuah order semuanya teratur, dsb, dengan cara membuat perda jilbab, ga boleh peremuan keluar malem, jum’at khusu’ dsb. Ini berbahaya sebab sejarah kinta menunjukkan bahwa wahabisasi masyarakat itu bukan sporadic, dia berlangsung sistematis meskipun dikerjakan secara sporadic di tempat yang mungkin seperti di daerah di yang jauh dari pusat pemerintahan, seperti di bulukumba dsb. Pemerintah pun bingung, missal anda Tanya gimana sikap kementrian dalam negeri menghadapi perda-perda bermasalah, apakah mereka berani menganulirnya. Jadi masih ada kegamangan antara euphoria demokrasi dan keinginan menyampaikan aspirasi primordial dengan kehendak pemerintah untuk meregulasi apresisasi yang sangat liar ini. Mendagri tidak berani mengatakan “jangan terapkan ini, ini wewenang pusat bukan bagian dari otonomi”. Saya berharap suatu saat nanti masyarakat jenuh dengan hal semacam itu. Mengapa kita bersuara lantang seperti ini. Semua hukum yang tidak didasarkan keilahian lebih gampang direvisi ketimbang hukum yang didasarkan atas keilahian /sacral, itu akan sulit diubah jika ternyata keliru. Meskipun hukum itu dilaksanakan serampangan tetap akan ada orang yang siap mati mempertahankannya. Kalo hukum sekuler, terbukti keliru kita akan lebih mudah merubahnya. Jadi relativisme itu sangat perlu dalam demokrasi.kalo kita keliru kita mengubah, sementara absolutism bisa jadi sangat tidak compatible dengan demokrasi. Sekarang ada orang yang bilang, meskipun ada hukum seperti itu tapi tetap ga jalan. Ya Alhamdulillah kalo ga jalan, dan nau’udzubillah kalau sampe berjalan. Tapi problemnya adalah, mereka akan menunggu pressure group yang lebih kuat sehingga menemukan momentumnya untuk dijalankan seperti di Aceh. Mungkin orang bisa bahagia karena Indonesia sangat plural, Talibanisasi mungkin tidak akan terjadi di Indonesia. Tapi kita perlu waspada, sejarahnya talibanisasi dan wahabisasi di Indoneia pertama sudah terjadi di Sumatera Barat tahun 1800an.
Erham: Jika dibandingkan dialog agama dan demokrasi di Indonesia dengan Negara lain, apakah Indonesia tertinggal?
Novriantoni: Indonesia tergolong maju, anda akan kesulitan menemukan dialog antar agama di Negara lain dengan participant yang lebih variatif dengan intensitas yang cukup tinggi dan kerjasama yang cukup baik. Di Mesir, dialog hanya terjadi antara islam dan Kristen koptik saja. Di Indonesia diiringi oleh demokrasi dimungkinkan terlaksana dengan lebih damai dan terbuka. Di Malaysia sangat terbelakang., orang Kristen saja tidak boleh menyebut Alloh, yoga diharamkan, banyak hal yang masih terbelakang di Malaysia, walaupun mereka masyarakat yang sangat rentan. Muslimnya cuma 60%, kalo sedikit saja terjadi chaos, seperti yang dialami Indonesia 1998, konflik rasial dan konflik agamanya bisa lebih dahsyat daripada Indonesia. Singapura, negara yang undercontrol oleh pemerintah sehingga dialog bisa diakatakan tidak terjadi. Yang agak baik ya Turki. Intinya Indonesia memang punya keunikan/khas. Makanya ada CRCS kan?.. ha…ha..
Erham: Program JIL sendiri yang focus ke Interreligious Dialog apa saja?
Novriantoni: Hampir semua program kita sensitive interreligious dialog. Yang rutin ya diskusi, artikel website, talkshow radio, dan anda jangan lupa, saya rasa hanya talkshow kita yang secara bebas memperbincangkan semua agama kita undang mereka untuk bicara. Semua program kita punya dimensi dialog antar agama, punya keinginan meningkatkan pemahaman antar agama.
Erham: Kalo advokasi bagi minoritas etnis dan gender?
Novriantoni: Minoritas Gender tidak langsung, minoritas etnis tidak nyata, tapi kalo minoritas agama iya. Kita advokasi ahmadiyah, Lia Eden, kelompok penghayat, advokasi kelompok yang dikriminalkan karena pandangan keaagamaannya. Tapi untuk masuk ke minoritas gender dsb memang agak riskan bagi kita, mungkin memang bukan porsi kita, intinya kiita mendukung hak setiap orang untuk punya otonomi individunya sepanjang tidak merecoki orang lain, prinsip itu yang kita dukung
Erham: Tahun 2009 ini, JIL mau focus ke mana?
Novriantoni: 2009 kita mau focus ke capacity building. Kita merasa setelah 8 tahun ada banyak kelemahan dalam SDM. Kita tak punya capasiti building yang baik. Jangan lupa, kadang sejarah Islam Indonesia mengalami moderasi karena ada individu atau kelompok yang sengaja atau tak sengaja disiapkan untuk berani bersuara melawan konservatisme, dan fundamentalism. Kalau tidak ada Cak Nur, Gus Dur, Dawam, Syafii Maarif, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, yang punya pengaruh di level organizational dan akar rumput, Islam di Indonesia itu bisa gawat. Jangan lupa, funding Arab Saudi itu besar sekali, jauh lebih besar daripada funding dari TAF 1 milyar setahun. Arab Saudi bisa ratusan milyar. Kalo anda baca sejarah betapa dahsyatnya funding Saudi untuk DDII Natsir. Funding itu sekarang larinya ke DDII, PKS beberapa, FPI, Laskar Jihad, HTI enggak. Jadi kita terselamatkan oleh orang-orang yang saya sebut tadi. Kita tak bisa mengharap pada Gus Dur terus menerus, kita perlu mencetak Gusdur, Caknur, Wahib baru. Tak perlu dominan, tak perlu jadi mayoritas, minoritas saja sudah cukup, tapi jangan sampai gak ada sama sekali.
Erham: Seandainya JIL jadi mayoritas, dalam arti sudah punya banyak pengikut, apakah JIL mau ke politik praktis?
Novriantoni: Ah tidak, Bukan kapasitas kita mas, ya karena orangnya ga ada… JIL dalam beberapa hal bisa bertemu partai2 nasional. Dalam hal politik kita ini konservatif lho. Dalam arti mengkonservasi apa yang dirumuskan founding father kita, Bhineka tunggal ika dsb. Kita menganggap itu sejarah yang perlu dilanjutkan, dan pada titik itu kita bisa saja punya titik temu dengan parpol yang concern dalam platform yang sama.
Erham: Ada anggapan bahwa JIL merupakan lembaga yang “liberal eksklusif”. Dalam arti bahwa JIL jaga jarak dengan kelompok lain yang tidak sepaham. Apakah hal itu benar?
Novriantoni: Dalam beberapa hal memang benar. Gini ya, kalo anda punya program talkshow radio apakah perlu mengundang FPI atau tidak. Saya rasa tidak perlu karena suara mereka sudah lantang didengar di media lain. Nah, gagasan JIL itu kan sebenarnya gagasan yang lemah di level kemasyarakatan. Kalau dibanding PKS dan lain-lain yang sangat well-organized, ya JIL gak ada apa-apanya. Eksklusif pada aspek itu iya, kita promoting gagasan yang sebenarnya belum well-accepted, tapi jangan dianggap bahwa Sesutu yang tidak diterima itu tidak baik. Anda bayangkan tahun 70an Cak Nur punya gagasan yang tidak diterima, tapi tahun 2000an gagasan itu kan mulai diterima, bahkan PKS saja lebh suka membawa piagam Madinah ketimbang piagam Jakarta. Jadi beberapa kali kita juga dialog dengan mereka, tapi ya dialog mereka kan pakai teriak-teriak gitu, jadi dialog tidak kondusif kalau dengan teriak-teriak.