Api amarah itu dipadam bukan dengan sejuknya guyuran hujan, tapi oleh gebukan “kain goni” para serdadu. Ternyata api itu tidak padam betul, baranya masih tersembunyi dibawah goni, nanti akan memercik lagi, dipadam lagi, memercik lagi, dipadam lagi, dan akhirnya…..bisa jadi…. bara mungil ini membakar goni.
“Minoritas” adalah bara mungil yang coba diredam dengan serentetan gebukan, terus bertubi. Saking nikmatnya menggebuk mereka, para penggebuk sampai lupa bahwa minoritas juga api. Sama dengan api yang membakar hati para penggebuk itu hingga menjadi gelegar gelora membara di dada, benar-benar sama panasnya.
Tapi api mungil biasanya lebih memilih tenang, seperti merambat di batang rokok atau gulungan obat nyamuk. Api mungil belum mampu bergolak. Saya katakan “belum”.
Nanti jika angin memihak mereka, membesarkan bara mereka, seperti simbok membesarkan bara tungkunya dengan semprong, mungkin mereka akan bergejolak, nyala kian meluas dan menggelegak!
Yang aku takutkan ketika nyala itu berlenggang sambil mendendang “orkes sakit hati”, maka lembaran koran akan diwarnai kabar balas dendam. Para serdadu akan kalang kabut karena api yang dulunya bisa mereka redam dengan goni, kini jilatan lidahnya saja telah mampu melalap rumah warga. Mobil pemadam dikerahkan, tapi api masih menggila seperti ketika membakar ribuan hektar hutan kita.
Jangan sombong menjadi mayoritas. Siapa sangka suatu saat nanti minoritas itu bukan lagi api kecil yang merambat malu di puntung cerutu, namun menjalar kemana-mana membakar segala.
Sejarah mencatat air kelakian Ya’qub telah memercikkan 11 bara yang mulanya digusah disana sini. Selalu menjadi minoritas di negeri lain. Tapi kini mereka menjadi Minority Superior di tengah-tengah kita yang Majority Inferior. to be continue . . .
*Goni : kain kasar yang tidak mudah terbakar, *Simbok: ibu, *Semprong: alat dari bambu untuk meniup api tungku, *digusah: diusir.
