tubuhku diringkus gelap
dihujani panah jekut hingga gigil
rontokkan karat pada jeruji
bui murung sedalam palung
namun tengadahku tetap gagah
menanti tempias tebar sinar
serta-merta kelebat cahaya menyerbu
silau kilau kemilau berpendar-pendar
tapi tak ada siapa-siapa
bukan sebrayat kunang-kunang
bukan lintang kemukus
bukan pula pulung gantung
hanya ada suara
gelegar liar dibalik samar
kian jelas, makin tegas
suara itu memanggi-manggil
menyuruh-nyuruh seperti majikan
terkadang bijak
seperti bapak
terkadang ketus
juga seperti bapak
namun terkadang pilu
seperti tangis seorang ibu
mengiris hati menggerus nyali
mataku tak mampu kedip
diganjal pana
inikah sabda dan wahyu itu
atau siapa yang bermain mantra tenung
ada langkah berderit-derit
seperti jerit pintu tua
satu pleton pria berjubah hitam
bertopi runcing menusuk perut langit yang membuncit
menyeret wanita telanjang bermuka rata
bocah-bocah tanpa alis bermulut manyun
berjalan mengambang
semuanya bungkam
aku bungkam
duyun karnaval itu
diakhiri kereta kencana berkuda delapan
dan berhenti
ada yang keluar dari kereta
sosok tegap gelap setinggi tebing
matanya berkobar-kobar
kepalanya bertanduk kerbau
ujung ekornya seperti panah
aku makin ngilu
dia makin lekat
tapi sejurus itu tanduknya rontok
ekornya lepas rantas
tubuhnya mengkerut jadi bungkuk
namun wajah penuh amarahnya makin jelas
hingga keriputnya mampu kubaca
tangannya gemetaran
mencengkeram wajahku
menggoyangku
menggoyangku berulang kali
“bangun bangun, cepat antar simbok ke pasar”