Oleh: erhambudi | Agustus 27, 2008

TUHAN – HANTU

 

 

tubuhku diringkus gelap

dihujani panah jekut hingga gigil

rontokkan karat pada jeruji

bui murung sedalam palung

 

namun tengadahku tetap gagah

menanti tempias tebar sinar

serta-merta kelebat cahaya menyerbu

silau kilau kemilau berpendar-pendar

 

tapi tak ada siapa-siapa

bukan sebrayat kunang-kunang

bukan lintang kemukus

bukan pula pulung gantung

 

hanya ada suara

gelegar liar dibalik samar

kian jelas, makin tegas

suara itu memanggi-manggil

menyuruh-nyuruh seperti majikan

terkadang bijak

seperti bapak

terkadang ketus

juga seperti bapak

namun terkadang pilu

seperti tangis seorang ibu

mengiris hati menggerus nyali

 

mataku tak mampu kedip

diganjal pana

inikah sabda dan wahyu itu

atau siapa yang bermain mantra tenung

 

ada langkah berderit-derit

seperti jerit pintu tua

satu pleton pria berjubah hitam

bertopi runcing menusuk perut langit yang membuncit

menyeret wanita telanjang bermuka rata

bocah-bocah tanpa alis bermulut manyun

berjalan mengambang

semuanya bungkam

aku bungkam

 

duyun karnaval itu

diakhiri kereta kencana berkuda delapan

dan berhenti

 

ada yang keluar dari kereta

sosok tegap gelap setinggi tebing

matanya berkobar-kobar

kepalanya bertanduk kerbau

ujung ekornya seperti panah

aku makin ngilu

 

dia makin lekat

tapi sejurus itu tanduknya rontok

ekornya lepas rantas

tubuhnya mengkerut jadi bungkuk

namun wajah penuh amarahnya makin jelas

hingga keriputnya mampu kubaca

tangannya gemetaran

mencengkeram wajahku

menggoyangku

menggoyangku berulang kali

“bangun bangun, cepat antar simbok ke pasar”


Beri tanggapan

Your response:

Kategori