Oleh: erhambudi | Mei 24, 2009

EARTH, a movie review

earth_PosterAnda akan dibawa ke bagian terdingin di planet ini dimana Beruang Kutub kian hari kian terancam sirna. Salah satu beruang kutup jantan digambarkan wafat karena sulitnya menemukan makanan setelah pemanasan global meluluh lantakkan es padat mereka. Anda juga akan dijumpakan dengan Gajah Afrika yang kehausan, berjalan ratusan mil di tengah Kalahari dan diterpa badai gurun, demi mencapai tempat minum di Okavango yang juga mulai mengering karena global warming. Selanjutnya, kisah anak paus dan induknya yang harus berenang 6000 kilometer juga akan membuat anda tertegun. Naiknya suhu bumi telah mengurangi jumlah plankton, yang padanya berbagai biota laut termasuk paus menggantungkan hidup. Alhasil, anda akan dengan cepat menyimpulkan bahwa global warming tidak hanya mengancam manusia, namun juga aneka satwa.

Film ini memang membuat kita merasa trenyuh (sedih dan prihatin), bukan hanya karena fakta-fakta yang memilukan diatas, namun juga bagaimana fakta-fakta itu dihantarkan ke ruang sadar dan bawah sadar kita. Suara Patrick Stewart yang bergetar mampu membawa narasi film ini dengan sangat emosional. Musik garapan George Fenton yang kadang lirih lalu menggemuruh dan mendentum, sangat mirip warna aransement Kitaro, membantu mengaduk-aduk emosi anda. Ditambah beberapa slow motion yang lembut membuat mata anda tak akan rela berkedip.

Tapi bagi anda yang tidak suka genre film sedih, jangan khawatir, karena film ini juga akan cukup menghibur anda. Anda akan dimanjakan gambar-gambar memukau. Jutaan kawanan burung yang memenuhi langit, tarian dan nyanyian burung-burung surgawi di tanah Papua, hutan tropis nan sejuk, kilatan aurora di kutup utara, pesona air terjun Niagara, ratusan lumba-lumba yang berpacu bagaikan misil termuntah dari submarine, loncatan nan molek sang raja lautan great white shark, hingga langkah kecil yang lucu dari si happy feet, penguin. Untuk menggarap film ini, BBC Worldwide dan Greenlight Media harus mendatangi 200 lokasi di berbagai penjuru bumi. Bukan hanya untuk mendapatkan gambar-gambar memukau, namun juga menunjukkan fakta-fakta belum terungkap. Waktu penggarapannya pun terbilang panjang; untuk menggambarkan sebuah siklus kehidupan sepanjang satu tahun, film ini harus digarap selama lima tahun. Tak heran jika film bertajuk “earth” ini disebut-sebut sebagai film dokumenter termahal sepanjang sejarah.

Film ini memang sudah dirilis sejak 16 November 2008 lalu, namun tidak ada kata terlambat bagi anda yang belum menontonnya. Tonton segera sebelum anda terlambat untuk menyelamatkan dunia. Bukan bermaksud beriklan, hanya meneruskan pesan moral yang menjadi penutup film ini: “but it is not too late to make a difference”


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.