Oleh: erhambudi | Desember 27, 2009

Memerdekakan Budaya Lokal

dimuat Harian Jogja, 19 Agustus 2009

Semakin sulit mencari anak yang mengerti tokoh wayang, tapi betapa mudahnya menemukan anak yang gandrung dengan tokoh manga dan anime Jepang maupun tokoh marveldari negri Paman Sam. Bukankah ini bukti bahwa kebudayaan kita sedang terjajah?

Setiap digelar perhelatan budaya, yang datang hanyalah orang-orang berumur. Pertunjukan seni tradisi yang semestinya menjadi media nguri-uri dan regenerasi budaya, menjadi tak lebih dari ajang romantisme historis. Memasuki pagelaran budaya seperti memasuki sebuah pertemuan reuni pakde-pakde dan eyang-eyang. Sulit ditemui muda-mudi yang secara sengaja datang ke pertunjukan wayang, kethoprak, dan sebagainya. Tanpa disadari, dalam mind set anak muda sudah tertanam bahwa kesenian tradisi sudah usang dan lapuk dimakan zaman. Sebaliknya, dengan mudah mereka beralih kiblat ke pop-culture dan hybrid yang dianggap sebagai identitas modern.

Menghadiri pertunjukan seni tradisi sama sekali tidak menimbulkan kebanggaan, justru bisa menjadi sebuah aib. Jika seorang anak muda baru pulang dari mengantar eyangnya menonton wayang, lantas ditanya temannya “dari mana kamu?” jawabnya “dari nganter eyang jalan-jalan”, dia tidak akan menjawab “dari nonton wayang”. Tapi jika dia pulang dari menonton film marvel, tanpa ditanya pun dengan bangga ia akan bercerita ke teman-temannya. Banyak remaja akan merasa malu dan merasa kampungan jika mendalami seni tradisi. Namun mereka merasa bangga jika dengan fasih menyebutkan beberapa nama tokoh manga, anime dan marvel. Mereka merasa ‘gaul’ jika bisa menceritakan kisahnya, jika mengoleksi poster, majalah, wallpaper, pin, hingga versi game-nya.

Kontekstualisasi warisan seni budaya; antara kebutuhan dan ancaman

Sebenarnya menurunnya minat generasi muda kita terhadap seni tradisi bukan hanya disebabkan oleh derasnya terpaan arus budaya lain. Namun juga disebabkan lemahnya upaya pelestarian yang kita lakukan ketika dihadapkan pada beberapa kendala. Kendala yang paling kerap dijadikan alasan meninggalkan seni tradisi adalah bahasa. Anak-anak sekarang semakin tidak faham dengan bahasa yang biasa digunakan dalam seni tradisi seperti wayang, kethoprak, maupun gendhing-gendhing, karena Bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa Krama, bahkan Krama Inggil. Bagi orang yang relatif tua sekalipun, masih kerap gagal mengartikan bahasa yang digunakan dalam pewayangan. Apalagi generasi muda yang wawasan budayanya semakin terkorupsi. Dengan kata lain, seni tradisi kalah progresif dengan manga dan marvel. Menyadari bahwa bahasa merupakan faktor dominan dalam menyebarkan gagasan, baik produsen manga, anima maupun marvel, tidak segan-segan melakukan dubbing maupun penerjemahan via subtitle ke bahasa penikmat. Maka menjadi niscaya untuk mempertunjukkan pagelaran seni budaya dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Sayangnya, seniman yang bisa melakukan ini terbilang sedikit.

Faktor kedua tentunya teknologi. Sebagai contoh, untuk mengenalkan tokoh wayang, yang bisa dilakukan hanyalah dengan menunjukkan gambarnya atau mengajak anak ke pertunjukkan wayang agar melihat secara langsung. Maksimal memutarkan rekaman pertunjukan wayang yang bagi anak muda dianggap membosankan.  Padahal sangat mungkin untuk menciptakan tokoh wayang sebagai tokoh film kartun, komik, atau program game. Tentu ada bagian tertentu dari wayang yang akan terdistorsi. Misalnya bentuk yang sedikit disesuaikan dengan selera anak dan remaja, serta cerita yang lebih kontekstual sesuai yang dihadapi remaja sehari-hari.

Namun tampaknya upaya kontekstualisasi ini akan terbentur oleh ortodoksi budaya. Upaya semacam ini justru dipandang sebagai ancaman terhadap nilai adiluhung yang terkandung dalam seni tradisi. Bagi sebagian penjaga gawang budaya, bahasa dalam seni tradisi adalah bagian integral yang tidak bisa dilepaskan dalam pementasannya. Bahasa wayang menyiratkan keluhuran moralitas yang diwariskan oleh budaya. Menampilkan seni tradisi dengan bahasa lain sama halnya menghapus salah satu bagian inti tradisi itu sendiri, yaitu bahasa. Seni tradisi justru dianggap sebagai garda terakhir yang secara hidup menjaga bahasa adiluhung yang mulai jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari. Menampilkan seni tradisi dengan bahasa lain sama saja dengan menutup pintu akses bagi keberlangsungan bahasa tradisi tersebut.

Alasan lain misalnya, penggunaan media kontemporer seperti pembuatan film kartun dan sebagainya, biasanya meniscayakan pula instrument lain yang lebih full effect ketimbang gamelan. Film-film manga, anime, maupun marvel menggunakan sound effect dan instrument mutakhir untuk menghasilkan karya yang memukau. Dikhawatirkan pembuatan film kartun yang mengambil tokoh wayang juga akan menegasikan eksistensi gamelan. Padahal antara gamelan dan wayang sudah dianggap sebagai dua sisi dari sekeping koin.

Satu kekhawatiran lagi yang masih berkaitan dengan wayang, kontekstualiasinya akan melahirkan tokoh-tokoh baru yang sesungguhnya tidak ada dalam tokoh pewayangan. Namun kekhawatiran semacam ini sebenarnya hampir dimentahkan dengan munculnya beberapa dalang yang berani membuat tokoh-tokoh tambahan dalam wayang di luar pakem yang ada. Misalnya, ada wayang yang berbentuk pocong, wayang berbentuk binatang tertentu ataupun monster, bahkan pernah ditemui wayang berbentuk Ksatria Baja Hitam.

Sebenarnya kekhawatiran tersebut tidak perlu dijadikan kendala. Kita tinggal membuat klasifikasi genre-nya. Sebagai contoh, hadirnya seni Campursari tidak lantas menghapuskan seni karawitan atau gendhingan yang menjadi induknya, namun hanya menambah genre baru tanpa menghapus yang lama. Selanjutnya audiens bisa memilih sesuai minatnya. Dengan demikian, seni pertunjukan dengan versi yang dianggap original tetap terus dipertahankan, sedangkan genre yang lebih kontekstual juga perlu dikembangkan sebagai upaya mendekati audiens yang juga mulai berubah minatnya. Sama-sama bersumber dari seni tradisi, seni yang sudah digarap lebih kontemporer akan lebih digemari generasi muda karena lebih mudah mereka cerna. Hal ini akan melahirkan rasa suka, lalu menjadi cinta. Jika kecintaan terhadap seni tradisi (meski sudah dikontekskan) mulai tertanam, maka mereka akan menengok kembali versi originalnya. Hal itu akan menumbuhkan minat mendalami bahasa versi aslinya serta cerita-cerita pewayangan yang belum dikontekstualisasikan. Oleh karena itu, versi asli dari sebuah tradisi memang sepantasnya tetap dijaga jangan sampai hilang dilindas versi yang baru.

Pelestarian budaya, terutama penanamannya pada generasi muda semakin urgen untuk dilakukan, sebab indikasi akan kehilangan budaya tersebut kian hari semakin nyata. Membiarkan budaya sendiri tidak diopeni sama halnya mempersilakan budaya lain menjajah budaya kita. Hingga suatu saat ketika bangsa lain mempertanyakan budaya kepada generasi penerus kita, anak cucu kita hanya akan menggelengkan kepala sambil berkata “mmmm…I am not sure, …aaaa…I don’t know


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.