Oleh: erhambudi | Oktober 22, 2010

Buddhisme di Dunia Modern, Antara Sekularisasi dan Protestantisasi

Tulisan ini merupakan catatan yang disarikan dari General Lecturer dengan pembicara Prof. Dr. Richard Gombrich dari Oxford University. Dia adalah seoang pakar Buddhism dengan reputasi dunia. General Lecturer tersebut mengambil tema “Buddhism in Modern World: Secularization or Protestantization”, dan dilaksanakan pada Rabu, 13 Oktober 2010 di Smart Room Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, jam Jam: 13.00 – 15.00.

Gombrich mengawali kuliah umumnya dengan menyampaikan salam hangat dari universitas Oxford di inggris untuk seluruh mahasiswa di Yogyakarta, khususnya mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga. Hari ini juga merupakan pertama  kali bagi Gombrich merayakan ulang tahunnya di Yogyakarta. Bagi  Gombrich judul kuliah umum “Buddhism in Modern World: Secularization or Protestantization”  termasuk judul yang terlalu panjang, namun semuanya akan dijelaskan olehnya.

Gombrich memberikan contoh karya tulis yang baik berkaitan dengan tema diatas. Sebuah buku berjudul Religion in Modern World yang ditulis oleh Bryan Wilson. Wilson adalah sahabat Gombrich yang 20 tahun lebih muda darinya. Sedikit banyak, apa yang dibicarakan Gombrich dalam Kuliah Umum ini diambil dari buku tersebut.

Gombrich bersama rekan-rekannya juga menulis buku berkaitan tema sekularisasi. Namun itu sudah 30 tahun yang lalu. Dia menjamin bahwa tulisannya pasti bermutu. Meski mengaku sudah lupa tentang isi tulisannya 30 tahun lalu itu, namun pada kesempatan ini dia mencoba menjelaskan kembali tema sekularisasi yang tertuang dalam tulisan tersebut. Dan akan menjelaskan tema diatas sehingga teruntai koneksi antara tiga tema besar yaitu Buddhism, Sekularisasi, dan Protestanisasi.

Gombrich menuturkan bahwa di dunia Barat yang dianggap modern, agama seolah tidak begitu mendapat tempat. Fenomena tersebut juga kian merebak  ke Timur, terutama di negara-negara yang sibuk dengan modernisasi seperti Cina, Jepang dan Korea. Adapun yang sering terlihat di masyarakat yang mengejar modernisasi ini justru gejala sekularisasi. Sehingga dengan melihat fenomena itu, hampir bisa dibenarkan bahwa antonim dari kata religious adalah secular. Sekularisasi bisa saja diartikan menjadi semakin sekuler dan kurang relijius. Pendapat ini juga diakui oleh Bryan Wilson, sayangnya dia tidak membahas protestantisme seperti yang akan didiskusikan pada kesempatan ini.

Menurut Gombrich, kurang lebih 500 tahun yang lalu, agama masih mempunyai peran penting dalam masyarakat. Orang akan datang kepada otoritas agama manakala menemui masalah dalam kehidupannya. Masalah apapun diadukan kepada agama. Dalam hal ini, agama diposisikan sebagai obat dan solusi dari berbagai ketidakberesan. Orang pun menerima “kenyataan” bahwa agama adalah penyembuh yang mujarab.

Dalam sejarah Kristen sebagai contoh, Gereja dalam sejarahnya juga menerima penyembuhan bagi umat di luar gereja. Ketika terjadi bencana alam, orang kehilangan harta dan kehilangan hal-hal yang berharga bagi dirinya. Saat seperti itu, yang diharapkan tidak hanya asuransi, tapi orang butuh lebih dari itu. Sebab manusia membutuhkan penyembuh dan penguat batin yang nestapa. Maka orang lari ke gereja untuk mendapatkan penyembuhan itu. Ternyata hanya dengan agama-lah orang bisa merasa nyaman hatinya.

Gombrich juga menyinggung tentang pendidikan. Menurutnya, pendidikan di zaman dulu juga dipengarui oleh nilai-nilai agama. Pendidikan bukan sekedar sebuah institusi, namun pendidikan dikontrol dan mengontrol agama. Bahkan hal yang sangat ilmiahpun seringkali masih diawasi oleh agama.

Ternyata agama telah memberikan banyak hal bagi manusia. Kesehatan ruhani bahkan jasmani, kesejahteraan hidup, pendidikan, bahkan penghiburan semisal festival keagamaan. Semua adala peran agama bagi manusia. Dan itu benar-benar bisa dinikmati dan membuat nyaman setiap penganutnya. Di dalam masyarakat Kristen, agama telah berperan dalam membuat lagu, memainkan musik yang diciptakan, ditampilkan dan diupah oleh gereja. Ini merupakan bentuk perkembangan di era sekuler, sebab pada masa lampau hal itu belum terjadi. Singkatnya agama telah memainkan peran penting dalam masyarakat. Masyarakat sekuler boleh saja bersikap sinis pada agama, namun fakta diatas menunjukkan bahwa dalam beberapa kondisi sesungguhnya masyarakat tidak akan bisa lepas dari agama.

Lalu apa fungsi agama bagi individu? Untuk menjawab itu, Gombrich kembali mengingatkan terlebih dahulu bahwa masalah kehidupan manusia di dunia ini dibagi menjadi dua; yaitu masalah duniawi dan masalah relijius. Namun seolah dalam masyarakat sekuler, segala masalah hanyalah berkaitan dengan dunia. Sementara itu pendidikan, kesehatan, ekonomi, hiburan dan lain-lainnya semakin dianggap sebagai urusan duniawi saja. Padahal itu juga merupakan urusan agama.

Meskipun tampaknya dalam konteks saat ini segala sesuatu sudah tersekularkan, namun tentunya bukan berarti agama kehilangan peran. Peran itu setidaknya menyusup ke dalam masing-masing individu. Sebab ketika sesorang menanyakan: “apa makna hidup ini, lalu bagaimana seharusnya saya menjalani hidup ini agar bermakna?”, maka orang akan mencari jawabnya lewat agama. Memang ini sekedar pertanyaan etis supaya seseorang bisa hidup lebih baik dan berarti, tapi sebenarnya ini adala pintu masuk agama di dalam kehidupan manusia, meski di masyarakat sekuler sekalipun. Tentu pertanyaan diatas cukup tak terelakkan, buktinya orang yang mengaku tidak relijiuspun tetap perlu belajar etika, sebab dengan etika itulah orang hidup bahagia. Artinya agama tidak akan mungkin kehilangan perannya sebab di dalam agama tertuang banyak etika yang menentramkan itu.

Orang yang gagal menemukan kenyamanan, akan menghadapi  kebingungan. Ia akan menganggap hidup ini begitu rumit (complicated). Di saat seperti itulah muncul dorongan untuk melakukan bunuh diri. Namun lagi-lagi orang akan bertanya: “apakah bunuh diri memang sebuah penyelesaian yang tepat?”. Pertanyaan itupun akhirnya berkorelasi dengan perntanyaan “apa yang nanti akan dihadapi setelah mati?” dan tentunya, hingga detik ini di peradaban yang dianggap modern ini, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu secara tepat kecuali satu, yaitu agama.

Tak heran jika sebuah buku sosiologi yang terkenal di Amerika mengatakan bahwa peran agama adalah to comfort and to challenge, untuk memberi kenyamanan dan untuk menantang manusia. Untuk membuktikan kebenaran pendapat itu mudah saja. itu bisa diamati dari motivasi orang datang ke tempat ibadah. Kira-kira apa yang mereka cari? Ternyata banyak diantara mereka yang datang beribadah untuk mencari ketenangan. Pengakuan ini terutama datang dari penganut agama yang sudah berusia lanjut. Bahkan sebagian besar adalah janda dan duda. Mereka yang berusia lanjut dihantui oleh akhir kehidupan, mereka yang janda dan duda dihinggapi kesendirian dan ketidakmenentuan. Semua masalah itu memerlukan sesuatu yang bisa memnbuat mereka merasa comfort (nyaman). Dan tidak ada yang bisa menenangkan hati mereka kecuali agama.

Pihak yang menganggap agama sebagai tantangan biasanya adalah kalangan muda yang mulai berfikir merenungi kehidupan. Yaitu mereka yang mulai sadar bahwa dunia ini tidaklah sempurna. Bahkan dunia ini diwarnai kebobrokan yang mengkhawatirkan. Maka para pemuda ditantang untuk membuat dunia ini lebih baik. Ketika mencari solusi tersebut, mereka bisa melihat agama, mempelajari fungsi dan manfaatnya serta kemungkinan mengembangkannya untuk perbaikan dunia.

Kesadaran akan dua realitas diatas, membuat agama tetap tidak bisa hilang meskipun diterpa sekularisasi. Sebagai contoh. Di Amerika Serikat, sebagai negeri yang dianggap sekuler, ternyata masih mudah untuk melihat orang berbondong-bondong ke gereja setiap hari minggu.

Pada prinsipnya, ada dua hal yang menjadi concern dalam agama. Yaitu menciptakan kesejahteraan di dunia serta yang kedua dan yang lebih utama menciptakan kesejahteraan setelah mati dengan cara mengupayakan kondisi yang lebih baik bagi realitas setelah mati nanti.

Untuk mencapai tujuan ideal itu, Buddha berkotbah tentang dukkha (penderitaan). Konsep ini pada gilirannya akan membawa manusia pada keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki tempat yang lebih baik, serta melahirkan keinginan menyelami kehidupan spiritual.

Untuk mencapai itu, bagaimana sikap Buddha terhadap dunia. Ternyata cara pandang Buddha berbeda dengan Kristen dan Islam. Buddha tidak terlalu berorientasi pada kehidupan dunia ini (welfare in the world), tapi melampaui hal itu. Cara yang ditempuh para Buddhist memang bermacam-macam. Bisa ditemui keragamannya pada umat Buddha di Cina, Jepang, Kamboja dan sebagainya yang menerapkan ajaran Buddha dipadu dengan lokalitas mereka sehingga menjadi akulturasi. Namun pada prinsipnya tujuan mereka sama yaitu mencari welfare after life (kesejahteraan setelah mati).

Berkitan dengan sekularisasi diatas, kelebihan Buddhism dibanding agama lain adalah kemampuan Buddhisme melihat sekularisasi secara sempurna. Hal ini dikarenakan ajaran Buddhisme yang tidak mengenal hal-hal magic bahkan tidak mementingkan konsep ketuhanan. Hal ini mempermudah umat Buddha untuk mendudukan sesuatu yang mundane (bersifat duniawi) sebagai profane (tidak sakral).  Padahal kemampuan seperti inilah yang menjadi salah satu syarat sekularisasi.

Berkaitan dengan Prostentatisme. Gombrich mengulas balik peristiwa protestantisme di dalam tradisi Kristen. Bermula abad 15 ketika Marthin Luther menentang Gereja Roma yang otoritasnya sangat kuat.

Buddha mengajarkan kebebasan, kemandirian dan tanggung jawab. Ketika Buddha ditanya  “apakah saya harus menjadi biksu seperti anda atau tidak?”, Sang Buddha hanya menjawab : “anda baik laki-laki dan perempuan bertanggung jawab atas apa yang anda lakukan sendiri”

Tapi hal ini berbeda dengan masa ketika para pemuka Gereja Roma berkuasa penuh terhadap umat Kristen. Pada masa itu seolah keselamatan hanya merupakan anugerah yang bisa diberikan oleh para pemuka agama (bahkan bisa ditebus dengan Surat Indulgensia). Tapi akhirnya para pemrotes sadar bahwa ritual yang diakukan para pemuka Gereja bukan satu-satunya jalan keselamatan. Ritual saja tidak cukup untuk menyelamatkan diri,namuni harus diimbangi dengan berperilaku baik. Hubungan yang kuat harus dibangun antara manusia dengan Tuhan, bukan antara manusia dengan clergy (kependetaan) yang nota bene juga diisi manusia biasa.

Pada sesi diskusi Gombrich menjawab beberapa pertanyaan kritis mahasiswa. pertanyaan pertama dilontarkan Abul Khoir, seorang mahasiswa PA kelas A. Ia mengungkapkan kegelisahannya terkait Agama dan isu terorisme. Meskipun agama adalah solusi, namun banyak orang yang tidak ingin lagi punya agama setelah merebaknya isu terorisme. Alasannya adalah karena mereka tidak ingin membunuh. Oleh karena itu lebih baik tidak beragama daripada punya agama tapi membubuh.  Dia menanyakan apakah cara pandang demikian benar atau salah? Gombrich menjawabnya pertanyaan bagus tersebut secara padat berisi. Dengan merefleksikan ajaran Buddha, Gombrich mengakui adanya dikotomi: “ada orang baik, ada orang jahat; ada etika baik dan ada etika tidak baik, manusia hanya disuruh memilih salah satunya, dan bertanggung jawab penuh atas pilihannya sendiri”. selanjutnya Gombrich mengutip sebuah mutiara dalam ajaran Buddha “Kebencian tak akan bisa dipadam dengan kebencian, tapi dengan cinta yang tulus”

Pertanyaan serupa dilontarkan ole Wahyudi dari kelas PA A.  Ia menuturkan bahwa hakikatnya agama ini adalah bentuk ketentraman bagi  kesejahteraan dunia. Jika seorang ateis beranggapan bahwa agama adalah iming-iming belaka dari orang orang terentu. Maka benarkah Lebih baik tidak punya agama, namun yang penting bisa bersikap baik? Gombrich menjawab pertanyaan tersebut dengan mengingatkan kembali bahwa bahwa agama berfungsi to comfort and to challenge. Agama menyamankan karena mungkin adakalanya manusia merasa sangat tidak beruntung, tapi dengan agama manusia akan punya harapan bahwa nanti akan ada kebahagiaan tersendiri yang dijanjikan agama. Manusia mengalami kebingungan, ketidaktahuan dan kegelisahan itu wajar. Saat bayi lahir, dia bigung dan gelisah, tapi toh setelah dewasa dia tahu bahwa dia baik-baik saja. Maka semua terserah pada kita. Kalau kita bisa menerima agama, mari kita teruskan, kalau tidak, itupun tanggung jawab masing-masing.

Pertanyaan berikutnya dilontarkan Takdir Ilahi, mahasiswa PA-2008. Ia mempertanyakan kapabilitas Buddhisme untuk menepis kemungkinan terjadinya clash civilization. Selain itu dia juga menanyakan relevansi protestantisme dan sekularisasi dalam kajian yang dilakukan Gombrich. Gombrich menjawabnya dengan memberikan contoh bahwa Buddha selalu saja bisa menyesuaikan diri dengan peradaban manapun baik di Barat maupun Timur. Sehingga potensi clash dalam Buddhisme terbilang sangat kecil. Gombrich mencontohkan, Sangha (kelembagaan) Buddhisme hadir di Jepang menjadi Buddha khas Jepang seperti Sokka Gakai, Nichiren Soshu, Zen, dan sebagainya. Begitu juga di berbagai penjuru dunia lainnya. Mengenai keterkaitan protestantisme dan sekularisasi sudah dijelaskan oleh Gombrich diatas dan tidak ia mengulang lagi.

Seorang mahasiswi PA semester V bernama Kholilah Hasan mengajukan pertanyaan tentang sistem kasta dalam pandangan Buddhisme. Gombrich menjawab dengan tegas bahwa Buddha tidak  mengenal Kasta. Buddha tidak pula mengenal diskriminasi jender. Buddha percaya bahwa wanita dan laki-laki sama-sama bisa tersucikan. Dalam Buddhisme, segala sesuatu sangat setara. Gombrich menambahkan bahwa dalam Buddhsme tidak mementingkan adanya ritual. Jika mau menjadi Buddhist yang berhasil, maka yang perlu diperbanyak adalah meditasi, bukan ritual.

Mahasiswi lain mengajukan pertanyaan yang menyentuh dan berkaitan langsung dengan kehidupan pribadi Ricard Gombrich, seperti berapa jumlah putra Gombrich dan apakah ia sudah mantap dan nyaman dengan keyakinan dalam hidupnya. Gombrich menyebutkan 2 putra dan empat cucunya. Dan ia sudah merasa nyaman dengan apa yang dia yakini saat ini.

Pertanyaan berikutnya dlontarkan oleh mahasiswa bernama Waskito Jati. Pertanyaan tersebut terkait apakah Buddhisme a set or rule / norm, atau juga punya aturan bagi orang biasa yang tidak mau menjadi biksu? Gombrich menjawab bahwa terkait set of rule/norm, Buddhisme memandang adanya hal baik dan hal buruk, itu sudah jelas dalam Buddhisme dan manusia dipersilakan memilih dengan penuh tanggung jawab. Terkait menjadi Biksu itu wajib atau tidak, sekali lagi Gombrich menjawab; “Silakan ambil yang anda perlu ambil, tapi jangan ambil yang tidak diberikan padamu.” Kalau manusia merasa perlu menjadi Biksu silakan saja. kalau tidak juga tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai keputusan yang kita ambil merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri adalah hal yang sangat fundamental dalam ajaran Buddhisme.

Mahasiswi PA bernama Resta Widyadara mengajukan pertanyaan kritis. Mampukah konsep Nibbana dijadikan senjata melawan sekularisasi? Gombrich menjawab bahwa sekularisasi bukan ancaman bagi Buddhisme, mungkin protestantisme lebih mengancam daripada sekularisasi. Sedangkan Nibbana dalam pandangan Gombrich adalah eliminasi paripurna dari keinginan, dari kebencian dan dari segala hal.

Diskusi ini diakhiri dengan pertanyaan dari Rahmat berkaitan truth claim masing-masing pemeluk agama. Gombrich menjawab dengan kata-kata dari Buddha “anda tidak harus mengikuti yang saya katakan”. Yang penting lakukan saja jalan-jalan kebaikan (Hasta Arya Marga).

Diskusi berakhir menjelang pukul 15.00. Namun sebelum diakhri, mewakili fakultas, Ibu Dekan Ushuluddin, Dr. Sekar Ayu Aryani, MA., memberikan kenang-kenangan kepada Prof. Richard Gombrich.


Tanggapan

  1. terkadang orang nilai-nilai keislaman memang lebih tertanam dalam diri orang barat……
    aku kagum dg smua kata-kata Prof. Richard Gombrich sebuah kata yang singkat namun penuh makna….


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.